Memberikan statement soal indikasi pemurtadan oleh FPI Kaltara terhadap festival Color Run selalu menjadi rentetan pro-kontra di Tarakan, Kalimantan Utara. Soalnya gini, Selama beberapa tahun belakangan masalah ini selalu jadi perdebatan hangat di salah satu forum Facebook PDKT (Peduli Kota Tarakan). Apa tidak bosan, ya? Bahkan dilansir oleh Newstara, FPI Kaltara mengancam akan membubarkan acara tersebut jika panitia tetap melaksanakannya.

Alasannya, karena kegiatan Color run dianggap sebagai bentuk dari ritual keagamaan-sebut saja agama Hindu-yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Dinilai festival ini lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaat. kegiatan tersebut mengandung banyak arti dan menimbulkan perubahan karakter dari diri orang yang mengikuti kegiatan tersebut. Bahkan, kegiatan yang bakal dihelat selama dua hari ini bisa berdampak hingga bertahun-tahun.

Dampak bertahun-tahun ini juga jadi pertanyaan saya. Apa saja dampak yang ditimbulkan apalagi sampai mengubah karakter orang. Selain jalan menjadi kotor penuh tepung warna-warni saya belum mendapatkan data validnya.

Menurut saya, bagaimana jika logikanya dibalik. Karena menggunakan ritual keagamaan Hindu dan India yang disebut festival Holi ini, harusnya sih orang India atau Hindu yang marah-marah. Pasalnya, festival keagamaan mereka dikomersilkan atau dijadikan komoditas. Gimana gak jadi komoditas, jika ingin berpartisipasi dan jadi pelari di festival ini harus membayar sejumlah uang. Mungkin saja, ini mencederai syariat mereka. Iya, toh?

Ini sama seperti kasus, Sinterklas, karakter ciptaan Coca Cola. Mereka menciptakan karakter Sinterklas dan dikaitkan dengan perayaan Natal untuk menaikkan penjualan di musim dingin, dan berhasil. Namun lucunya, di Indonesia sendiri, Sinterklas setiap tahunnya jadi perdebatan halal haram halal haram. Padahalkan, tidak ada hubungannya karakter Sinterklas dengan perayaan Natal hanya murni menjadi ikon Coca Cola. Toh, perdebatan yang tiap tahun ada di masyarakat juga tidak menghasilkan apa-apa selain caci maki dan sumpah serapah. Yang paling banyak untung tetap saja pihak Coca Cola. Nah, itulah yang disebut kapitalisasi agama. Atau bisa saja FPI sendiri adalah produk dari sistem ini ya?

Walalupun begitu, saya juga tidak tertarik dengan acara Color run yang diadakan di kota Tarakan atau di kota manapun, tapi bukan berarti saya harus menghentikan kegiatan tersebut. Jika, saudara-saudara FPI merasa banyak mudharatnya, ya jangan ikut berpartisipasi. Se-simple itu. Saya yakin, acara ini hanya sekedar hiburan tanpa disusupinya hal-hal yang bapak-bapak FPI takutkan. Santai, ini bukan Woodstock kok.

Seharusnya FPI memberikan briefing atau diskusi terbuka saja yang menghasilkan saran untuk acara ini untuk mencari jalan tengah. Jangan tiba-tiba memberikan ancaman akan membubarkan acara. Apalagi mengambil kewenangan Tuhan, sampai mengindikasikan yang ikut acara bakalan murtad. Kebablasan itu namanya.

Btw, ONE OK ROCK, band rock asal jepang bakalan konser di Jakarta tanggal 30 Mei mendatang. Kapan ya Tarakan bisa menggelar konser seperti ini? Eh gak jadi, ribet entar urusannya sama FPI. HEHEHEHEHE