Istri dari salah satu konglomerat Indonesia, Ardie Bakrie, Nia Ramadhani memang sering menjadi pemberitaan nasional perihal lakunya sebagai sosialita. Nia adalah sosok yang banyak didambakan wanita sekarang, pasalnya, kehidupan Nia dianggap sempurna, Cantik, mewah, glamour, dan punya suami yang kaya. Walaupun Nia tidak bisa mengupas salak dan menggoreng telur, namun sosok dan kehidupannya tetep menjadi dambaan kaum hawa.

Berangkat dari semua hal di atas, saya iseng-iseng berpikir bagaimana kehidupan Nia Ramadhani jika tinggal di Tarakan dan menjadi warga biasa tanpa Ardie Bakrie dan embel-embel selebritisnya? Sudah barang tentu ini hanya khayalan saja, toh setiap orang memiliki kebebasan untuk berkhayal di negeri ini. Jadi, jangan terlalu diseriusin, ya.

1. Hits seantero Tarakan
Nia Ramadhani sudah pasti akan menjadi magnet yang besar di kota kecil ini dengan kerupawanannya. Followers di akun Instagramnya sudah pasti bejibun dengan hitungan puluhan ribu dengan feed yang berisikan foto selfienya di cafe-cafe hits di kota ini. Tidak lupa, Nia juga kerap menerima endorsment dari berbagai UKM di Tarakan dengan bayaran ratusan ribu rupiah saja, walaupun kadang-kadang gratis karena milik teman sendiri. Tapi, Nia cukup senang dengan prestasi jumlah followersnya di Instagram. Sampai akhirnya ia pun dijuluki “Selebgram Tarakan”

2. Jadi sosialita dan buat arisan Online
Apalah arti kecantikan yang tersohor jika tidak memiliki circle pertemanan sosialita yang luas di Tarakan. Kurang afdol rasanya. Keterkenalannya di kota Tarakan membuat Nia memiliki kredibilitas hingga ia memberanikan diri untuk membuat arisan online dengan beban biaya pendaftaran. Dimulai dari teman-temannya, demi sebuah prestise circle sosialita, mereka siap menggelontorkan puluhan juta untuk mengikuti arisan online ini. Untuk Nia, biaya pendaftarannya lumayan untuk menunjang gemerlap kemewahan ala Tarakan, peduli setan sama OJK.

3. Bisa mengupas salak dan menggoreng telur
Pada kenyataan sebenarnya, Nia memang tidak bisa mengupas salak dan menggoreng telur. Namun berbeda dengan Nia yang jadi warga Tarakan, sosok Nia tidak mungkin tidak bisa mengupas salak, wong di Tarakan buah salak ini berlimpah kok. Apalagi kalau Nia punya keluarga di daerah Mamburungan dan Karungan. Setiap panen, buah dengan kulit bersisik ini sudah pasti jadi oleh-oleh saat Nia berkunjung ke daerah tersebut. Bukan hanya itu, buah ini kerap menjadi bahan mencok (merujak) untuk circle sosialitanya. Selain itu mengupas salak, Nia juga bisa menggoreng telur. Aktifitas ini adalah hal yang mudah karena terbiasa membuat mie instan dengan telur mata sapi yang selalu ia upload untuk konten snapgram di akun IG-nya.

4. Kudu punya smartphone keluaran terbaru
Dalam kenyataan yang sebenarnya, di ulang tahun pertama anak ketiga Nia Ramadhani, publik dikejutkan dengan kedermawanan Nia yang membagikan iPhone X dan smartphone Oppo untuk tamu yang bisa menjawab pertanyaan kuis pada acara tersebut. Sungguh mewah sekali. Namun, kita kembali lagi ke khayalan, bagaimana jika Nia jika di Tarakan? Tentu saja sikap ini akan jadi sebaliknya. Pasalnya, untuk mencapai puncak penilaian sosialita yang hakiki, smartphone keluaran terbaru adalah syarat mutlak untuk mencapainya. Jadi, Nia akan mati-matian mengumpulkan uang yang entah bagaimana caranya untuk mendapatkan smartphone terbaru. Masa bodoh dengan nilai ekonomis fungsi dan kegunaannya, yang penting saat upload snapgram di IG, ndak malui-maluin alias burik.

5. Liburan ke luar kota dan jastip
Liburan memang menjadi kebutuhan setiap manusia. Semakin kompleksnya masalah kehidupan, semakin seseorang membutuhkan liburan. Namun, liburan bukan berarti harus bermewah-mewah, sebagian orang menikmati es kelapa dan makan kapah (kerang khas Tarakan) di pantai Amal mungkin sudah cukup sebagai liburan. Tapi sayangnya hal ini tidak cukup untuk Nia, ya, memang setiap orang berhak memilih liburannya. Kenyataannya, Nia lebih senang untuk keluar kota dan liburan ke kota besar seperti Balikpapan atau Samarinda yang punya Mall besar. Apalah arti menjadi sosialita Tarakan jika setahun sekali tidak menginjakkan kaki ke kota besar. Walau kadang memaksakan, namun demi konten snapgram, yok mari. Oh iya, tidak lupa untuk menyiapkan Jastip (Jasa titip), lumayankan untuk nongkrong di Starbuck dan eksistensi hedonis.

Well, sudah cukup berkhayalnya, mari kembali lagi ke kenyataan. Nia Ramadhani tetaplah menjadi Nia yang bersuamikan konglomerat, tidak bisa menggoreng telur, mengupas salak, namun memiliki 16 asisten rumah tangga di rumahnya. Dibandingkan dengan hidupnya yang sering kita hujat, tetap saja hidup kita ini ngenes.

Walaupun Nia Ramadhani sering dihujat dan disangkut-pautkan dengan lumpur Lapindo, tapi jika diberi pilihan untuk hidup seperti dia, ya, sudah barang tentu kita-kita ini pasti mau. Peduli setan sama masalah lumpur Lapindo. HEHEHEHE

Ada yang bisa menambahkan lagi?