Dari reggae hingga post rock, Pagunderground vol 2 sukses digelar

Gedung graha KNPI Tarakan jadi saksi keseruan malam digelarnya Pagunderground vol 2 pada tanggal 08 Februari beberapa hari lalu. Gelaran acara yang dibesut Tarakan Underground Community (TUC) dan All For One ini menjadi daya tarik tersendiri untuk penikmat musik sidestream yang ada di kota Tarakan.

Crowd dibuat begitu intim dengan mapping stage sederhana namun berkesan jadi tontonan yang layak untuk jadi salah satu acara yang ditunggu-tunggu. Walaupun sedikit telat -kita bisa memaklumi- namun acara berjalan mulus dengan ketertiban moshing moshpit dari crowd. Well, itu cukup menyenangkan.

Hantaman beat drum deathcore dari Motherland, salah satu band lokal Tarakan yang tampil dengan minus bassist berhasil membuka acara Pagunderground vol 2 tahun ini. Kemudian, crowd kembali dimanjakan dengan sound-sound mengambang dari pasukan post rock Pamusian, Bieerhoff, band ini berhasil merapatkan barisan crowd untuk menikmati ambient mereka yang tampil tanpa vokal, namun cukup unik karena hadir dengan mapping stage video ikan cupang. Genre ini memang terasa baru di Tarakan, namun crowd sangat menikmati perform dari Bieerhoff.
Tak hanya itu, TXBX, band reggae lokal Tarakan ini menurunkan beat cepat dari band sebelumnya dan berhasil membuat crowd bernyanyi dan bergoyang bersama. Memang, kita bisa akui apapun musikmu jika mendengarkan musik reggae otomatis akan bergoyang mengikuti hentakannya yang mengalun santai. Kalian pasti setuju kan? Yomaann..

Tak kalah serunya, barisan line up seperti Abutmuhsoy, Define of Despair, Metal Roses, Nevermind, Vhentatonix mengambil alih stage dan berhasil membuat crowd bergemuruh kembali. Kemudian sebagai penutup, band pop punk veteran yang baru mengeluarkan album, WC Umum, tampil apik sebagai penutup yang manis dari gelaran Pagunderground vol 2 tahun ini.