Dante alighieri

Dante Alighieri, dalam “Divine Comedy” tulisannya bercerita tentang perjalanan spiritualnya dari Bumi menuju Surga. Sebelum sampai kesana, dia harus melewati alam Limbo (alam kosong yang ditempati orang-orang yang mati sebelum munculnya agama kristiani). Kemudian menuju Inferno (neraka), lalu Purgatorio (tempat penyucian) yang kemudian berlanjut sampai ke Paradisso (surga), tempat dia berjumpa Tuhannya.

Saya selalu beranggapan bahwa di masa social distancing atau swa-karantina ini sebagai Purgatorio atau Purgatory, tempat kita mencoba menyucikan diri, menghindar dan menjauhkan diri dari wabah Covid-19 (Inferno) untuk akhirnya nanti sampai ke masa yang lebih baik tanpa wabah dimana-mana (Paradisso).

Analogi yang terlalu filosofis, memang. Tetapi, kenyataan itulah yang kini terjadi di masyarakat kita. Alih-alih pergi keluar rumah menikmati akhir pekan, hang-out bersama kawan-kawan, berjumpa dengan orang yang disayangi, berkumpul di konser musik, menonton film di bioskop, traveling ke luar kota, dan lain sebagainya yang kau rasa menyenangkan, kau malah harus tetap dirumah. Dua minggu, sebulan, dua bulan, mungkin lebih.

Sampai kapan kita harus bertahan di Purgatory ini?

Apa yang bisa menjadi cara tercepat bagi kita untuk mengakhiri krisis virus corona?

Berdasarkan data worldometers.info saat saya menulis artikel ini (6 april 2020), Covid-19 telah mencatat lebih dari 1,2 juta kasus dan 69 ribu kematian di seluruh dunia. Para ilmuwan dan ahli kesehatan pun sedang berlomba untuk mengembangkan obat serta vaksin untuk wabah ini. Lalu bagaimana perkembangannya?

Dengan tingkat emergency yang tinggi dan banyaknya pihak yang sedang berusaha mengembangkan, diperkirakan vaksin Coronavirus sampai kepada garis finish dalam 12-18 bulan. Wow, 18 bulan, dengan persebaran yang luar biasa mengerikan setiap harinya? Ini masih terbilang lama!

Tapi, waktu 12-18 bulan merupakan pemecah rekor untuk meramu vaksin dalam sejarah. Mengembangkan vaksin bukanlah hal yang mudah. Umumnya dibutuhkan waktu sekitar 5-10 tahun bagi vaksin untuk sampai pada tahap aman untuk diproduksi secara masal dan  dapat digunakan. Diperlukan berbulan-bulan uji coba dan harus melewati beberapa fase.

Berbeda dengan pengobatan yang diberikan kepada pasien yang sakit, vaksin diberikan kepada orang-orang yang sehat untuk dapat mengalahkan virus baru yang menjangkiti. Jadi, menyiapkannya dengan terburu-buru dapat mengakibatkan risiko yang besar.

Saat ini, industri-industri kesehatan sedang melakukan upaya untuk mempercepat proses, dan bahkan melewati fase pengujian kepada hewan, sambil mempertahankan standar keamanan dan kemanjuran. Terdapat 4 fase yang perlu dilewati dalam pengembangan vaksin:

  • Fase I: Studi kecil dilakukan pada orang sehat, yang kemudian mengevaluasi vaksin untuk keamanan dan respon imun pada dosis yang berbeda. Untuk uji coba COVID-19, ini diperkirakan akan memakan waktu tiga bulan; biasanya membutuhkan satu hingga dua tahun.
  • Fase II: Penelitian yang dilakukan terhadap ratusan sampel orang untuk menilai kemanjuran serta dosis dan jadwal vaksin yang optimal. Untuk uji coba COVID-19, ini diperkirakan akan memakan waktu delapan bulan; biasanya memakan waktu dua hingga tiga tahun.
  • Fase III: Penelitian yang dilakukan kepada ribuan orang yang dievaluasi untuk melihat perkembangan keamanan dan kemanjuran vaksin. Untuk uji coba COVID-19, ini dapat dikombinasikan dengan Fase II; biasanya memakan waktu dua hingga empat tahun.
  • Tinjauan untuk lisensi: Badan pemerintah yang menyetujui vaksin baru akan meninjau data uji coba dan informasi lain dalam aplikasi lisensi. Ini biasanya membutuhkan satu hingga dua tahun tetapi kemungkinan akan dipercepat hanya dalam beberapa bulan.
  • Fase IV: Studi pasca-persetujuan yang memantau efektivitas penggunaan vaksin di seluruh dunia.

Ya, memang perlu banyak waktu untuk mempersiapkan hal yang terbaik.

Lalu, apakah ada alternatif lain yang lebih cepat dan sedang dikembangkan para ahli untuk menangani si Covid-19 ini?

Masih ada 2 jenis pengobatan lain yang dapat digunakan para ahli kesehatan dalam menangani virus corona sembari menunggu vaksin, yaitu pengobatan dengan antibodi, dan penggunaan repurposed drugs.

Sarah Ives, direktur peneliti SynBioBeta dalam interviewnya dengan Insider, menyatakan bahwa timnya sedang mempersiapkan pengobatan dengan antibodi untuk Covid-19. Pengobatan ini dilakukan dengan mengembangkan antibodi yang dihasilkan oleh orang yang dulu pernah sembuh dan mengalahkan virus SARS (SARS dan Covid-19 memiliki kesamaan DNA 70%-80%). Memang, tubuh kita akan menciptakan antibodi sendiri untuk mengalahkan virus yang baru masuk, tetapi terkadang proses itu membutuhkan waktu sampai berbulan-bulan untuk antibodi terbentuk maksimal. Maka dari itu pengobatan dengan penggunaan antibodi yang sudah siap ini dapat dilakukan, yaitu dengan menyuntikkannya ke pasien yang sedang sakit, yang nantinya bereaksi terhadap antibodi alami tubuhnya untuk menduplikasi dan mengalahkan sel virus. Walaupun pengobatan ini juga memerlukan uji coba dan fase, diperkirakaan treatment ini akan siap pada bulan September-Oktober tahun ini.

Kemudian ada pula jenis pengobatan dengan penggunaan repurposed drugs. Apa itu?

Ini adalah pengobatan dengan menggunakan obat-obatan yang sudah ada, yang kemudian di uji coba untuk mengobati penyakit baru. Berdasakan Science magazine, saat ini WHO (World Health Organization) telah menguji beberapa obat yang dapat digunakan dalam mengobati pasien Covid-19 yang diperkirakan dapat digunakan pada bulan Mei-Juni.

WHO juga telah memberikan izin penggunaan plasma darah orang yang telah sembuh dari Covid-19. Plasma tersebut nantinya akan diteliti untuk melihat perkembangan antibodi yang terbentuk oleh pasien yang sudah sembuh terhadap coronavirus, kemudian akan disuntikkan kepada pasien baru. Pengobatan ini diharapkan untuk dapat berfungsi dengan baik, yang dulu juga pernah sukses digunakan terhadap penyakit-penyakit lainnya.

Fase pengembangan pengobatan dan vaksin covid-19 (sumber: SynBioBeta)

Pada akhirnya, kita akan sama-sama berharap pengembangan obat-obatan serta vaksin yang dilakukan oleh para ahli dapat berjalan dengan lancar dan dapat digunakan secepatnya. Kita percayakan hal itu kepada mereka.

Untuk kita, apa yang dapat kita sumbangkan terhadap diri kita dan orang lain? Tetaplah bertahan di fase Purgatory ini. Syukuri lah masa-masa bersama keluarga dirumah, atau bersendirian dikosan.

Bagi saya pribadi, masa pandemik ini adalah momen yang tepat bagi kita untuk dapat evaluasi, mengembangkan dan memahami diri lebih baik lagi. Kita sudah tidak disibukkan lagi dengan jadwal bepergian, bekerja ke kantor, berbelanja, ke tempat hiburan, beribadah berkumpulan, dan masih banyak lagi. Kita punya banyak waktu untuk meningkatkan potensi diri, dan menyadari bahwa hal-hal baik tidak selalu berada di kerumunan, tetapi justru di dalam kesendirian.