Kalau boleh jujur, sejak dirilis belum lama ini, saya baru sedikit sekali mendengarkan mini album ERK: Jalan Enam Tiga. Motivasi untuk lebih sering mendengarkan mini album ini, datang sehabis menonton tayangan Soleh Solihun Interview di Youtube. Dari sana, saya jadi lebih memahami konteks lagu-lagunya. Jadi turut serta merasakan pengalaman ERK ketika merekamnya. Terlebih, jadi merasa terwakili atas karya-karyanya.

Atas itu semua, saya ingin menuliskan pengalaman saya mendengarkan lagu-lagu terbaru ERK ini. Saya urutkan secara subjektif, dari yang paling favorit.

  1. Palung Mariana

Tak perlu berlama-lama bagi saya untuk memutuskan lagu ini sebagai lagu favorit saya di mini album ERK. Lagu ini paling berpotensi jadi lagu sing along-nya ERK di rilisan kali ini. Secara ketukan dan musikalitas —tanpa bermaksud menggali memori atau membandingkan dengan lagu-lagu ERK sebelumnya— menurut saya, lagu ini mengingatkan saya pada nomor-nomor ‘santuy’ ERK terdahulu macam: Desember, Sebelah Mata, Lagu Kesepian atau Kamar Gelap.

Saat ditanya soal lagu ini dalam wawancara dengan Soleh Solihun, Cholil menjawab bahwa lagu ini bercerita tentang perasaan sesal karena telah melukai atau menyakiti sekitarnya. Perasaan sesal itu yang tidak akan pernah hilang, walaupun kita telah meminta maaf.  Konon, judul Palung Mariana diambil dari nama titik terendah atau terdalam di bumi, sekaligus juga mungkin yang paling sulit dijangkau.

Menurut saya, lagu ini yang paling personal di antara lagu-lagu lain dalam rilisan kali ini. Lagu ini membawa kembali pengalaman mendengarkan album terdahulu ERK –Selftitled dan Kamar Gelap-, bahwa ERK memang “Trio Pop Minimalis” —sebutan yang muncul pasca album pertama dan kedua mereka. Sesuatu yang justru didobrak sendiri oleh mereka pada album Sinestesia, di mana musiknya dibuat se-megah dan se-rumit mungkin. Palung Mariana, menjawab kerinduan pendengar dan penikmat karya ERK akan kesan minimalis mereka.

  1. Jalan Enam Tiga

Bukan ERK rasanya kalau tak membuat lagu dengan lirik atau gestur politis. Jalan Enam Tiga semacam panggilan terhadap memori masa kecil kita semua terhadap serial Sesame Street. Serial ini, menurut Cholil, dianggap cocok dan cukup mewakili cerita di lagu dan mini album mereka. Di mana ada nilai-nilai kesetaraan, egaliter dan pluralisme.

Saat ditanya oleh Soleh Solihun, lagu ini merupakan keinginan Cholil untuk ‘meninggalkan jejak’ di Amerika –tempat ia menghabiskan waktu untuk studi sekaligus menemani sang istri juga untuk studi.

Menurut saya Lagu ini adalah ekspresi politis dari ERK. Ekspresi keberpihakan ERK terhadap situasi belakangan ini. Simak saja potongan reff-nya bilang begini:

“Jalan Enam Tiga, semua merdeka

Boleh berbeda, ekspresikan saja

Tak ada bigotnya, tak ada demagognya

Bukan rekaan, ini kenyataan”

Terdengar politis?

Review Mini Album Jalan Enam Tiga - Efek Rumah Kaca

Review Mini Album Jalan Enam Tiga – Efek Rumah Kaca

  1. Normal yang Baru

Lagu ketiga favorit saya di rilisan kali ini. Sekilas, lagu ini mengkritisi sikap kita yang memilih diam dan saling mendiamkan terhadap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Sesuatu yang tidak normal, kalau terus menerus dilakukan atau terulang, suatu saat akan jadi kenormalan. Kenormalan yang baru. Kewajaran yang baru.

Fenomena ini, menurut saya, adalah turunan atau bahasa lain dari ungkapan lawas: kebohongan yang diucapkan terus-menerut, suatu saat akan dianggap sebagai kebenaran. Hmmm sounds familiar?

Menjadi favorit ketiga karena secara tema dan sudut pandang cukup unik. Secara musik, lagu ini bisa jadi anthem untuk tema-tema perlawanan. Walaupun tentu saja tetap belum bisa menggantikan Di Udara atau Hilang.

  1. Tiba-tiba Batu

Sangat sulit menempatkan lagu ini sebagai favorit terakhir di rilisan ERK kali ini. Lagu yang sudah bisa didengarkan di kanal digital sejak tahun lalu ini menceritakan fenomena post-truth.

Post-truth menurut saya adalah suatu fenomena di mana kebenaran menjadi sangat relatif. Di mana orang-orang memilih kebenaran mana yang paling pas untuk kepentingannya, atau kepentingan kelompoknya. Dan sialnya, orang-orang itu justru malah makin ‘batu’ kalau dikritik. Ini cukup tergambar pada bait pertama lagu tersebut:

“Wajahnya terlihat sama

Belum ada plastik di muka

Di kepalanya sumpah-serapah semua

Orang-orang di sekitarku

Tiba-tiba menjadi batu

Awalnya cuma belagu

Nantinya bisa bikin malu”

Bagi saya, selalu menyenangkan bisa menikmati karya seni –musik, film, puisi, novel, dst— yang terkoneksi dengan pengalaman kita. Dan lebih dari itu, jauh lebih menyenangkan jika karya seni itu bisa mewakili keresahan zaman.

Selamat mendengarkan! Selamat kepada Efek Rumah Kaca!