“Mas, Alfamidi sudah buka lho di Tarakan,” sayup-sayup sebuah kabar hinggap di telinga, yang saya juga lupa siapa yang mengantarkan kabar ini.

Akhirnya, waralaba minimarket ini masuk juga ke kota kecil kami setelah rumor ini jadi pembicaraan di forum Facebook selama berbulan-bulan. Sebenarnya tidak ada yang spesial, karena ini hanya sebuah minimarket. Tarakan beberapa tahun belakangan juga memiliki minimarket lokal yang tidak kalah dengan Alfamidi seperti Nu Store, malah lebih unggul karena menjual bir. Di-display (tampilkan) lagi.

Namun, yang selalu unik adalah respon dari warga Tarakan sendiri, selalu hype dengan sesuatu yang baru. Apalagi ditambah embel-embel ‘sudah ada di Jawa’.

Alfamidi karang balik/forum PDKT

Tidak hanya saat pembukaan Alfamidi saja yang membuat orang membludak belanja di sana. Toh, peristiwa ini pernah terjadi saat Pizza Hut secara resmi buka di kota ini, sampai-sampai Instagram Story teman-teman saya penuh dengan Pizza yang tidak lupa selfie dan menandai tokonya. Jangan dianggap norak, ini sebenarnya sesuatu yang normal, kok.

Berbeda dengan Pizza Hut, Alfamidi dibuka secara resmi saat pandemi korona. Namun, mengherankan, kenapa pengunjung jadi membludak sampai buat antrian mengular? Padahal, pemerintah sedang menggalakkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dari tanggal 29 April kemarin. Kenapa kok masih bebal?

Walaupun begitu, pihak Alfamidi mengakui jika pihaknya tetap mengikuti protokol pencegahan Covid-19 dengan mewajibkan cuci tangan serta membatasi pelanggan yang masuk ke gerai.

Ternyata, yang bikin masyarakat mengantri seperti antrian di toko Supreme ini adalah paket sembako murahnya. Dugaan saya menjadi salah karena mengira sesuatu yang hype penyebabnya. Malu saya.

Paket sembako murah/forum PDKT

Bayangkan saja, saat ini gula pasir yang beredar di kota Tarakan diecer harga 20ribu/Kg bahkan ada yang menjual lebih dari harga ini. Sedangkan Alfamidi menjual dengan 12.500/Kg. Tentu saja emak-emak menjadi liar, karena selisihnya lebih dari lima ribu Rupiah. Wong, selisih seribu Rupiah saja emak-emak ini rela untuk mengarungi samudera, kok, apalagi untuk selisih harga yang besar.

Teori survival mechanism yang paling terkenal dikemukakan oleh James C. Scott, salah satunya dengan mengurangi pengeluaran dengan cara penghematan untuk terus bertahan hidup. Berlandaskan teori ini, ternyata Belanja di Alfamidi Tarakan adalah sebuah praktek dari teori ini yang relate dengan keadaan seperti sekarang.

Layaknya sebuah oase di tengah gurun keruwetan hidup di kala pandemi ini, Alfamidi muncul dengan menawarkan air segar untuk memenuhi sembako murah seperti harapan masyarakat. Sedangkan Pemerintah, alih-alih memikirkan bagaimana sembako bisa murah untuk masyarakat, malah sibuk nyemprotin warung yang buka di atas jam malam. Alfamidi 1-0 Pemerintah. Long life Alfamidi!