Tidak ada yang lebih menyenangkan saat punya teman yang bisa diandalkan. Yang karenanya, kamu merasa tak masalah jika hidupmu mulai berantakan. Teman yang bisa selalu menawarkan pertolongan, bahkan saat tak diminta. Yang mampu mengingatkan dengan caranya, saat merasa kita sudah mulai kelewatan.

Rasa-rasanya juga menenangkan punya teman yang selalu bisa dimintai bantuan. Dalam segala kondisi dan cuaca, dalam segala bentuk dan rupa, dalam cara yang paling serius atau konyol sekalipun.

Mungkin pola pertemanan kita memang mengalami perubahan. Dan semakin dewasa, kita semakin mengerti sekaligus pelan-pelan memberi makna pada sebuah pertemanan.

Waktu kecil, kita berteman dengan banyak orang. Arti pertemanan di fase ini adalah kesenangan. Di mana kita tak terlalu ambil pusing dengan segala hal yang menyertainya, sepanjang itu menyangkut kesenangan. Tak masalah jika hari ini bertengkar atau bahkan pukul-pukulan, karena umur perselisihan itu tak akan panjang. Toh, besok juga sudah baikan.

Saat remaja, pilihan berteman jadi semakin beragam. Kita jadi punya referensi dan cara menjalin pertemanan. Pada masa ini, arti pertemanan bisa jadi adalah tantangan. Melalui teman, kita mencobai hal-hal baru, menantang dunia, bermusuhan dengan apa dan siapa saja, mencicipi eksplorasi pencarian jati diri, hingga berakhir menertawakan diri sendiri.

Ujian solidaritas sedang deras-derasnya di fase ini. Atas nama pertemanan, kita bisa membangun apa saja. Termasuk juga merusak apa saja. Mungkin pertemanan di fase ini adalah yang paling luas spektrum pemaknaannya. Mulai dari yang konstruktif hingga yang paling destruktif sekalipun. Pada fase ini pula, kelak kita akan mengingat-ingat betapa membahagiakannya punya teman.

Yang agak rumit adalah fase dewasa. Saya benci menganggap diri saya ada di fase ini, tapi apa boleh buat, di sinilah saya sekarang.

Pada titik ini, lingkaran pertemanan cenderung semakin sedikit. Jika pada dua fase sebelumnya punya banyak teman adalah prestasi dan kebanggaan, sekarang dua hal itu tidak terasa. Kalaupun terasa, mungkin kita tidak menganggap sebagai sebuah prestasi yang bisa dibanggakan. Kita dan orang-orang yang kita anggap teman akan saling menyeleksi, mana yang pas dianggap sebagai teman, mana yang bukan. Tentu saja ukuran dan cara menyeleksinya beda-beda tiap orang.

Berbekal pengetahuan dan pengalaman, mungkin juga sedikit ke-sok-tahuan, kita memulai petualangan memilah-milah: mana teman yang sejalan mana yang cuma pelarian, mana yang bisa diandalkan, mana yang cuma datang saat butuh bantuan. Apapun itu, kita mulai terbiasa dengan seleksi teman.

Ilustrasi Pertemanan (Unsplash/Helena Lopes)

Ilustrasi Pertemanan (Unsplash/Helena Lopes)

Bagaimanapun, yang tak boleh dilupakan bahwa hubungan pertemanan adalah interaksi sosial. Hukumnya selalu sama: nilai apa yang bisa kita tawarkan dalam membangun dan menjaga hubungan itu. Jika sewaktu kecil kita bertukar kesenangan, dan di waktu remaja kita bertukar tantangan, maka saat dewasa kita bertransaksi dan bernegosiasi soal tujuan. Mana yang bisa mendukung kita sampai tujuan dan mana yang tidak.

Karena sudah di fase dewasa, kita memang saling menyeleksi. Atau bisa jadi sebaliknya, karena kita semakin menyeleksi teman maka kita ada di fase dewasa. Dan sudah barang tentu, yang namanya seleksi pasti ada yang dipertahankan sekaligus disisihkan. Karena polanya demikan, kita pelan-pelan akan sadar bahwa kadang kita masuk kategori yang dipertahankan kadang juga sebaliknya. Kadang sifatnya sementara, kadang juga untuk selamanya. Tidak masalah, karena kita pun sedang melakukan proses itu.

Dengan pola pertemanan fase dewasa yang rumit dan penuh pertimbangan transaksional seperti itu, maka mungkin terjawablah sebuah pertanyaan: Mengapa semakin dewasa kita semakin punya sedikit teman.

Dengan sedikitnya teman yang dimiliki sekarang, kita jadi merasa pertemanan justru semakin intim dan mendalam. Kita memberi makna pada pertemanan: bahwa kita siap melalukan banyak hal untuk menolong teman, sebagai usaha menjaga dan mempertahankan. Tentu saja di titik ini semua proses itu kita lakukan dalam rasionalitas orang dewasa, bukan kesembronoan khas remaja.