Smart City: Bagaimana Dengan Pasar Tradisional di Kota Tarakan ?

Hingga saat ini, setelah pergantian pucuk pimpinan walikota di Tarakan kondisi pasar tradisional yaitu, Gusher, Tenguyun dan Beringin masih dianggap kotor, bau, kumuh, becek, lorong yang sempit dan semerawut. Pembenahan pasar tradisional yang ada di Tarakan nampaknya, masih belum menjadi prioritas, karena hingga saat ini kondisi sanitasi dan higenis lingkungan pasar yang buruk masih terjadi, sehingga membuat pelanggan tidak nyaman dan penjual tidak memperoleh keuntungan yang maksimal. Salah satu contoh, pengolahan ayam potong masih menyatu dengan kompleks pasar, sisa pengolahan ikan dibuang dilantai, pedagang menambah lapak/display dagangan, parkir mobil dan motor yang semrawut dan lemahnya pengawasan kebersihan dan pengamanan oleh pengelola pasar.

Tawaran solusi

1. Komitmen pemerintah untuk program revitalisasi pasar modern

a. Opsi pertama, pembenahan infrastruktur pasar, membangun ruang khusus untuk pengolahan ayam potong yang terpisah dari lapak penjual. Ruang khusus tersebut disiapkan untuk memotong dan membersihkan daging ayam untuk dibawa ke lapak penjual. Jadi, yang dijual dilapak hanya daging ayam dan organ ayam yang ekonomis seperti hati, kulit, kaki ayam. Selanjutnya perlu dikelola sisa sampah ayam potong agar tak menimbulkan bau dilingkungan pasar.

b. Opsi kedua, bila kondisi keuangan defisit seperti yang terus di-propaganda-kan pemerintah Tarakan, harus ada usaha perubahan perilaku dan mindset penjual dan mental pengelola pasar dalam upaya perbaikan pengelolaan pasar. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah komunikasi intens antara pemerintah, pengelola pasar, dan pedagang, untuk membahas kondisi higenis dan sanitasi pasar yang buruk. Pihak diatas mesti menyepakati tentang perubahan mekanisme pengelolaan pasar, mengembalikan fungsi lapak, display jualan seperti kondisi awal. Pedagang tidak diperkenankan menaruh barang dagangan dilokasi yang melebihi kontrak kios atau lapak. Mengembalikan kondisi lapak dan kios seperti awal sepertinya akan merugikan pedagang pasar, tapi pasar yang nyaman, lorong pasar yang lebar, jalan yang bersih dan kering, akan mendatangkan banyak pelanggan dan potensi keuntungan.

Potret Sudut Pasar Tradisional Tarakan
Potret Sudut Pasar Tradisional Tarakan (yd)

c. Kluster dagangan yang ada di pasar tradisional Tarakan saat ini sudah benar, tapi perlu dibuat papan informasi kluster dagangan untuk mempermudah pembeli melakukan pencarian produk. Termasuk bila ada penjual daging halal dan non halal pun dipisahkan lapaknya.

d. Pengelola pasar bekerjasama dengan pemangku kepentingan terkait misalnya Dinas Kesehatan untuk kesehatan pangan, Dinas Perdagangan untuk kejujuran timbangan, Bank Indonesia untuk survei statistik pra dan paska revitalisasi pasar, Dinas Perikanan untuk produk ikan layak konsumsi dan bukan dari hasil penangkapan ikan yang ilegal dan merusak.

e. Ada petugas sampah yang berkeliling mengambil sampah serta memilah sampah organik dan non organik di belakang pasar.

f. Pengelola pasar perlu menetapkan kode etik kebersihan, dengan pengadaan petugas kebersihan yang selalu siaga dan hadir, tenaga keamanan untuk mengontrol pedagang nakal yang mencoba menambah lapak, mencurangi timbangan, larangan merokok diseluruh kompleks pasar, pengelolaan sampah pasar satu atap, penyediaan timbangan bagi pembeli, dan penyediaan tempat sampah.

g. Setelah pasar kuliner Bangayo, perlu diterapkan pula jual beli berbasis non tunai dengan melibatkan pihak swasta seperti Gopay, Ovo, dan bank.

h. Selain itu, perlu dikembangkan kawasan parkir khusus untuk keluar masuk kendaraan diluar pasar, hingga tidak mengganggu proses jual beli.

Untuk melakukan ini, Pemerintah kota Tarakan, pengelola pasar, penjual perlu melakukan serangkaian kegiatan komunikasi intens, sosialisasi, pertemuan lintas kepentingan untuk merumuskan dan mengidentifikasi solusi untuk segera merevitalisasi pasar tradisional di Tarakan.