TARAKAN – Di tengah stigma yang kerap melekatkan dunia musik dengan gaya hidup nokturnal, sebuah gerakan kolektif di Kota Tarakan berusaha membalikkan narasi tersebut. Melalui gelaran “Rock on the Street Vol. 2″, puluhan pegiat seni di Kalimantan Utara turun ke jalan untuk melakukan jalan santai sejauh 4 kilometer dengan satu syarat mutlak: mengenakan kaos band kebanggaan.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Kelompok Grup Musikal ini bukan sekadar ajang pamer atribut subkultur, melainkan sebuah ikhtiar untuk menyeimbangkan antara proses kreatif dan kebugaran fisik. Agenda ini direncanakan akan menjadi kegiatan rutin yang dilaksanakan dua kali dalam sebulan.
Ketua Dewan Pembina Grup Musikal, Adi Nata Kusuma, menekankan pentingnya kesehatan bagi para pelaku industri kreatif di Kalimantan Utara. Menurutnya, antusiasme peserta dalam volume kedua ini menunjukkan kesadaran yang mulai tumbuh di kalangan musisi lokal.
”Harapan kami adalah seluruh musisi di Kalimantan Utara bisa tetap sehat dan semangat. Kreativitas dan kesehatan harus berjalan seimbang. Kami mengagendakan ini secara rutin dua kali sebulan agar teman-teman muda tidak hanya fokus berkarya, tetapi juga tetap menjaga kondisi fisik melalui olahraga,” ujar Adi Nata Kusuma, Minggu (12/04/2026) sore.
Senada dengan hal tersebut, Ayi, selaku inisiator kegiatan, mengungkapkan bahwa motivasi utama gerakan ini adalah untuk memutus stereotip gaya hidup pemusik.
”Anak-anak musik sering kali identik dengan dunia malam. Itulah alasan utama kami menginisiasi kegiatan ini; kita harus sehat. Ini adalah upaya sadar untuk mengubah pola hidup menjadi lebih baik tanpa meninggalkan identitas kita sebagai musisi,” tutur Ayi.
Keunikan acara ini terletak pada aturan berpakaiannya yang ketat. Ketua Dewan Pengarah Grup Musikal, Boy Ramdani, menjelaskan bahwa penggunaan kaus band merupakan diferensiasi utama yang membedakan kegiatan ini dengan olahraga jalan santai pada umumnya. Baginya, identitas visual ini adalah penghormatan terhadap profesi dan hobi mereka.
”Sebagai pecinta musik, konsepnya harus jelas. Penggunaan baju band saat jalan santai adalah yang membuat kami berbeda. Bahkan, bagi teman-teman yang ingin bergabung, menggunakan baju band hukumnya ‘fardu ain’ atau wajib. Silakan sediakan baju band Anda dan mari kita sehat bersama-sama,” tegas Boy.
Melalui langkah-langkah kecil di atas aspal Tarakan ini, Kelompok Grup Musikal berharap dapat membangun ekosistem seni yang tidak hanya produktif secara karya, tetapi juga tangguh secara fisik, sekaligus menjadi ruang perjumpaan yang inklusif bagi generasi muda di wilayah perbatasan.
Leave a comment