TARAKAN — Adopsi sistem pembayaran nontunai digital di wilayah perbatasan utara Indonesia terus mengalami lompatan eksponensial. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara mencatat tren kenaikan yang signifikan pada volume dan nilai transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sepanjang periode 2023 hingga awal 2026.
Hingga akhir tahun 2025, jumlah pengguna QRIS di Kaltara telah mencapai 131 ribu pengguna, atau bertumbuh sebesar 8,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan ini berbanding lurus dengan perluasan jaringan merchant QRIS yang menembus angka 112 ribu merchant, tumbuh 18 persen (yoy). Kota Tarakan menjadi pusat pertumbuhan utama dengan kepadatan merchant tertinggi, yakni mencapai kurang lebih 179,56 merchant per kilometer persegi ($km^2$) dengan total 47.239 merchant. Sementara itu, Kabupaten Bulungan menyusul dengan 28.139 merchant dan Kabupaten Nunukan dengan 27.932 merchant.
Secara akumulatif, total volume transaksi QRIS di Kaltara sepanjang tahun 2025 sukses membukukan angka 21,5 juta transaksi, atau melonjak drastis sebesar 408 persen (yoy). Dari sisi nilai nominal, transaksi digital ini mencatatkan nilai sebesar Rp2,4 Triliun, merepresentasikan pertumbuhan sebesar 266 persen dibanding tahun sebelumnya.
Kepala KPwBI Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, mengemukakan bahwa perluasan ekosistem digital ini merupakan bagian dari bauran kebijakan sistem pembayaran yang bersifat pro-growth untuk mendorong efisiensi di sektor perdagangan dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kendati mencatatkan pertumbuhan yang fantastis, BI melihat ruang ekspansi di Kaltara masih sangat terbuka lebar.
“Jika dihitung berdasarkan estimasi total penduduk usia produktif di Kaltara yang mencapai sekitar 523 ribu jiwa, tingkat penetrasi QRIS saat ini baru berada di kisaran 25 persen. Artinya, masih terdapat potensi ceruk pasar yang sangat besar, yaitu sekitar 392 ribu jiwa penduduk produktif yang belum terdigitalisasi,” jelas Hasiando.
Salah satu terobosan terbaru BI untuk mempercepat penetrasi ini adalah digitalisasi sektor transportasi laut melalui program Pelabuhan SIAP QRIS. Setelah sukses diterapkan di Pelabuhan Tengkayu I Tarakan pada akhir 2025, BI bersama Dinas Hubungan Pemda setempat meluncurkan Pelabuhan Kayan II SIAP QRIS di Bulungan pada 17 April 2026. Targetnya, pada akhir tahun 2026, seluruh pelabuhan publik utama di Kaltara—termasuk di Nunukan, Malinau, dan Tana Tidung—sudah mengintegrasikan sistem pembayaran tiket dan retribusi secara digital menggunakan QRIS.
Leave a comment