TARAKAN – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik, menyampaikan bahwa hingga saat ini dampak dinamika geopolitik global terhadap perekonomian Kalimantan Utara masih dalam tahap pemantauan dan belum memicu perubahan signifikan terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi daerah.
Hal tersebut disampaikan Hasiando dalam pertemuan media Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara yang digelar di Hotel Tarakan Plaza, Jumat (30/01/2026) malam.
Menurutnya, pengukuran dampak ekonomi tidak dapat dilakukan secara instan karena indikator pertumbuhan ekonomi diperbarui secara triwulanan.
“Kita tentu saat ini melihat atau mengukur dampaknya ke perekonomian Kalimantan Utara, tapi itu perlu waktu. Pertumbuhan ekonomi kan di-update setiap tiga bulan,” ujarnya.
Hasiando menjelaskan, sebelum eskalasi geopolitik global terbaru, salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara berasal dari sektor ekspor, khususnya komoditas batu bara.
“Ekspor batu bara kita cukup tinggi dan menjadi salah satu komponen pertumbuhan perekonomian Kaltara. Tekanan di sektor ini tentu akan kita cermati, termasuk dampak eksternal lainnya dari komoditas-komoditas lain,” katanya.
Meski demikian, hingga saat ini Bank Indonesia belum melakukan perubahan terhadap perkiraan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara.
“Sampai saat ini, kami belum mengubah perkiraan ekonomi Kaltara. Situasi geopolitik terbaru ini kan baru terjadi, sehingga masih perlu kita kaji lebih dalam,” jelasnya.
Terkait potensi kerentanan ekonomi akibat kondisi geopolitik global, Hasiando menilai fundamental domestik Kalimantan Utara relatif kuat dan diharapkan mampu menahan tekanan dari sisi eksternal maupun domestik.
“Domestik Kalimantan Utara mudah-mudahan cukup baik untuk menahan dinamika yang terjadi, baik di sektor domestik maupun eksternal,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peran UMKM sebagai penopang ekonomi daerah, seiring dengan permintaan domestik yang dinilai masih kuat.
“Dengan fundamental domestik yang natural dan demand yang kuat ini, kami berharap perekonomian Kaltara bisa terus tumbuh. Program dukungan UMKM dan upaya mendorong ekspor tetap kami lakukan,” katanya.
Ke depan, Bank Indonesia akan mengambil langkah yang lebih ekstra untuk memitigasi risiko dari sektor eksternal, salah satunya dengan mendorong peningkatan ekspor serta memperkuat permintaan produk lokal dari daerah lain.
“Kalau pun ada risiko dari sektor eksternal, itu bisa kita trade off dengan peningkatan ekspor maupun meningkatkan permintaan produk lokal kita,” tambahnya.
Secara umum, Hasiando optimistis perekonomian Kalimantan Utara masih cukup kuat dan berpeluang tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
“Hingga saat ini Kaltara cukup kuat. Mudah-mudahan ekonomi kita bisa tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun 2025,” ucapnya.
Selain faktor geopolitik, ia juga menyoroti peluang ekonomi Kalimantan Utara pada 2026 dari sektor industri pengolahan, khususnya dengan masuknya PT Kalimantan Aluminium Industri ke tahap commissioning.
“Sesuai jadwal, PT Kalimantan Aluminium Industri saat ini memasuki tahap commissioning. Sebelumnya masih berada di tahap konstruksi,” jelasnya.
Menurut Hasiando, hilirisasi dari pengolahan bauksit menjadi aluminium akan meningkatkan nilai tambah dan menopang pertumbuhan ekonomi daerah dari sektor industri.
“Nilai tambah dari pengolahan bauksit menjadi aluminium itu meningkat. Mudah-mudahan bisa menopang pertumbuhan ekonomi kita,” katanya.
Ia berharap kawasan industri tersebut mampu menyerap tenaga kerja lokal, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Kalimantan Utara.
“Harapannya, lapangan kerja semakin terbuka, ekspor meningkat, ekonomi tumbuh, dan masyarakat Kaltara terserap di dunia kerja kawasan industri,” pungkasnya.
Leave a comment