TANJUNG SELOR — Fungsi intermediasi perbankan di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) menunjukkan performa yang kokoh dan sehat pada awal tahun 2026. Bauran kebijakan makroprudensial yang akomodatif terbukti efektif mendorong perbankan dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor prioritas tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian (prudential banking).
Data Bank Indonesia menunjukkan total penyaluran kredit perbankan di Kaltara pada Triwulan I-2026 bertumbuh kuat sebesar 75,88 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Penopang utama lonjakan kredit ini disumbang oleh komponen Kredit Investasi yang melesat sangat signifikan sebesar 168,02 persen (yoy). Di posisi kedua, Kredit Modal Kerja tumbuh stabil sebesar 35,39 persen (yoy), sementara Kredit Konsumsi tumbuh sebesar 7,04 persen (yoy). Berdasarkan sektor ekonomi, sektor industri pengolahan mendominasi penyaluran kredit dengan pangsa sebesar 44,19 persen (tumbuh 209,73 persen yoy).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, menyatakan bahwa tingginya pertumbuhan kredit investasi mencerminkan kepercayaan pelaku usaha yang sangat tinggi terhadap prospek jangka panjang perekonomian Kaltara. Hal ini juga sejalan dengan hasil Survei Konsumen BI per Maret 2026 yang menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih berada di zona optimis sebesar 125,11.
“Akselerasi kredit investasi ini menjadi modal penting bagi pembangunan kapasitas produksi daerah, hilirisasi, dan penciptaan lapangan kerja baru di Kaltara,” ungkap Hasiando.
Kabar baiknya, ekspansi kredit yang agresif ini dibarengi dengan kualitas aset yang sangat prima. Risiko kredit perbankan di Kaltara terpantau berada dalam kondisi yang sangat terkendali. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) Bruto Kaltara pada Triwulan I-2026 tercatat hanya sebesar 0,72 persen. Angka ini jauh berada di bawah threshold atau ambang batas aman yang ditetapkan secara nasional, yaitu sebesar 5 persen. Jika dibedah, NPL investasi berada di level sangat rendah yakni 0,15 persen, NPL konsumsi 1,21 persen, dan NPL modal kerja sebesar 1,63 persen.
Di sisi lain, perbankan Kaltara masih menghadapi tantangan pada sisi penghimpunan dana. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Triwulan I-2026 mengalami kontraksi sebesar minus 2,13 persen (yoy). Penurunan ini utamanya dipengaruhi oleh merosotnya simpanan giro yang terkontraksi hingga minus 24,55 persen (yoy). Namun, pelemahan likuiditas DPK tersebut berhasil ditahan oleh simpanan tabungan masyarakat yang tetap tumbuh positif sebesar 8,57 persen (yoy) serta deposito yang tumbuh tipis 1,56 persen (yoy). Performa aset perbankan secara umum pun tetap terjaga tinggi dengan pertumbuhan sebesar 16,66 persen (yoy).
Leave a comment