TARAKAN – Gerak kolektif itu mulai menyala kembali melalui Ikatan Keluarga Alumni Yogyakarta (IKAYOKU). Kegiatan ini menjadi momentum peringatan 1 Dekade terbentuknya Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Kalimantan Utara di Yogyakarta (IKPMKU-DIY), yang dikemas dalam bentuk webinar alumni lintas generasi, Jumat (31/10/25) malam.
Temu alumni dikemas secara Webinar yang dikemudikan oleh Ferica Chritinawati Putri, di buka oleh sambutan Perwakilan Pendiri IKPMKU-DIY, Akbar Prima sekaligus salah satu inisiator diantara lainnya ada Muhammad Eko Irkhamy yang juga menggawangi diadakannya event ini. Awal sambutannya Akbar membuka dengan Kalimat “SAATNYA!!! Alumni Jogja Bekumpaw.” Akbar berpesan dalam sambutannya
“Kalimantan Utara didirikan dengan niat baik. Pesan kami jangan ada penjajah di atas tanah Kalimantan Utara. Jadikan Kaltara tempat lahirnya manusia-manusia visioner yang menciptakan produk intellectual capital (sebagaimana pesan Ayahanda dr. Jusuf SK), jadikan Kaltara karya nyata untuk masyarakat Kalimantan Utara, dan jadikan Kaltara tempat yang tak kalah istimewanya seperti Jogja,” ujarnya.
Akbar menutup dengan kalimat “Bukankah Bulungan dulunya juga merupakan Daerah Istimewa Bulungan???”
Lalu dilanjutkan oleh Yusia RIM selaku Ketua Pertama IKPMKU-DIY yang kini menjadi Guru SLB Negeri Malinau.
Setelah itu Adi Nata Kusuma yang juga kini tercatat sebagai Anggota Dewan Provinsi Kalimantan Utara beliau mengutarakan keseriusannya mengenai pengembangan pendidikan, bahwa dititik ini Adi Nata menyakini bahwa Jogja banyak memengaruhi perspektifnya dalam mengarungi kehidupan, bersosial, dan berpikir.
Pembahasan dibuka oleh Dr. Catur Hendratmo (Gen X), beliau membuat semua audiens kembali membuka memori bagaimana Jogja dapat meromantisme kecerdasan penghuninya dalam berpikir, tidak lupa beberapa ingatan itu begitu erat kaitannya dengan kekuatan roh dari Asrama Mangkaliat yang penuh dinamika dan dialektika.
Pembicara dari (Gen Y/Millenial), Joko Supriyadi merupakan Pendiri Yayasan Sejarah Budaya Kalimantan Utara. Dalam presentasinya yang berjudul “Membaca Ekonomi Kaltara”, Joko menyajikan berbagai materi menarik dan berbasis data. Ferica sebagai Moderator mengatakan
“Ketika data berbicara, inilah wujud dari penyajian narasi berdasarkan kajian dan teori.” bebernya.
Sementara itu, Tazky Hidayat, salah satu warga yang pernah menghuni Asrama Mangkaliat mengatakan “Bang Joko macam Persentasi ke Investor ini” berkomentar di grup WhatsApp, Persentasi Joko pun dinilai berhasil dalam memadukan riset, data ekonomi, dan perpektif pembangunan Kalimantan Utara dengan cara yang segar dan analitis.
Dilanjutkan oleh Anissa Fitria perwakilan (Gen Z) yang sangat menjunjung tinggi nilai kekinian dan kebaruan dalam pembahasan materinya, Anissa yang sangat interes pada bidang penilitian Ia mengharapkan sebagai generasi muda yang tumbuh di Jogja pulang ketanah kelahiran bukan hanya soal kembali secara fisik, tapi membawa nilai-nilai yang bersifat menumbuhkan.
Dan Nilai itu dibawa pulang karena Anissa percaya keistimewaan tidak hanya milik Jogja namun bisa kita hidupkan di tanah kita sendiri. Anissa memiliki misi bagaimana cara-cara baru dalam wadah inovasi berbasis potensi lokal.
Salah satu penanggap yang menarik adalah Novryantino Jati Vahlevi alumni Yogyakarta yang kini bertugas di Kejaksaan Negeri Malinau. Dalam pembahasannya Jati menyampaikan keressahan tentang fenomena matinya kepakaran atau death of expertise, yang semakin meluad di berbagai ruang dan jabatan. Menurutnya, “Tempat ideal itu harus diduduki oleh orang sesuai keahliannya, bukan tunduk pada kekuasaan.”
Iwan Setiawan, Direktur PDAM Kota Tarakan juga hadir dan memberikan pandangannya terhadap isu sosial yang berkembang. Ia menegaskan bahwa sesorang yang terjun dalam dunia praktik perlu memiliki tiga dasar keilmuan yaitu Ekonomi, Hukum, dan Filsafat. Iwan juga mengingatkan kembali bahwa gagasan pembentukan Provinsi Kalimantan Utara tidak terlepas dari peran mahasiswa Kalimantan Utara di Yogyakarta (saat itu masih bagian dari Kalimantan Timur) yang memperjuangkan daerahnya menjadi otonom.
Lalu penanggap terakhir, Reinaldi, merupakan mahasiswa aktif di Yogyakarta asal Kalimantan Utara. Ia sempat menyampaikan keresahannya terhadap kurangnya perhatian Pemerintahan Kalimantan Utara terhadap keberadaan mahasiswa yang sedang menempuh Pendidikan di Kota Yogyakarta, terutama dalam bentuk kehadiran dan dukungan nyata dari pemerintah daerah.
Hal tersebut langsung ditanggapi oleh Adi Nata Kusuma selaku stakeholder, Adi Nata pun menyadari keresahan yang dialami kawan-kawan yang ada di Yogyakarta, dari itu Adi Nata Kusuma berpesan bagaimana kedepannya alumni Yogyakarta melalui IKAYOKU ini dapat mendorong kualitas Pendidikan SDM Kalimantan Utara melalui pembentukan Lembaga Pendidikan dan pelatihan di berbagai bidang yang dibutuhkan untuk percepatan Pembangunan ekonomi Kalimantan Utara.
Leave a comment