Home Opini Idul Fitri yang Setara: Membaca Ulang Peran Perempuan di Rumah
Opini

Idul Fitri yang Setara: Membaca Ulang Peran Perempuan di Rumah

Share
Tulisan ini bercerita bahwa hidangan Idul Fitri tidak semata tentang enak atau tidak, tetapi tentang bagaimana kita merespons peran perempuan di baliknya.
Share

Penulis: Anonim – Pegiat Literasi

“Syawal menggemuruh, kita masih selalu berada di bulan kemenangan ini”.

Idul Fitri selalu hadir sebagai momentum kebahagiaan dan kesucian. Namun, di balik suasana hangat dan penuh suka cita, ada pola yang sering berulang tanpa kita sadari.

Tulisan ini bercerita bahwa Idul Fitri tidak semata-mata tentang hidangan enak atau tidak, tetapi tentang bagaimana kita menyikapi peran perempuan di baliknya.

Rumah ramai oleh tamu yang silih berganti, meja penuh dengan hidangan menggugah selera, serta ruangan tertata rapi dan indah dipandang. Dalam situasi ini, sering kali perempuan mengambil hampir seluruh peran domestik membersihkan rumah, menyiapkan makanan, dan memastikan semuanya berjalan dengan baik.

Gambaran ini dianggap wajar, seolah-olah sudah seharusnya demikian.

Perempuan menjalani begitu banyak pekerjaan: menanak nasi yang mengepul, meracik kuah yang mendidih, hingga bekerja dengan peluh tanpa henti. Perannya begitu penting, namun sering kali tidak disadari sebagai beban yang terus berulang.

Di sini kita perlu melihat lebih lanjut melalui konsep pembagian kerja berbasis gender (sexdivision of labour). 

Dah Tahu Ini ?  Kritik Pendidikan Barak Militer Kang Dedi Mulyadi Berdasarkan Konsep Pendidikan Paulo Freire: Membangun Karakter atau Menanamkan Ketaatan?

Di banyak masyarakat, pekerjaan domestik dilekatkan pada perempuan, sementara laki-laki lebih diidentikkan dengan ruang publik. Pola ini membuat kerja-kerja perempuan di rumah menjadi tidak terlihat, bahkan kerap dianggap sebagai kewajiban alami, bukan sebagai kontribusi yang setara.

Pertanyaannya, apakah peran tersebut lahir dari kodrat, atau dari kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi? Idul Fitri seharusnya menjadi momen penyimpanan termasuk beban yang tidak pernah ditanyakan.

Setelah salat Idul Fitri usai, banyak perempuan kembali ke dapur untuk memastikan hidangan tetap tersedia. Di titik ini, penting untuk bertanya: apakah ini benar-benar pilihan yang setara, atau sekadar pola yang terus diproduksi tanpa refleksi? Struktur gender yang telah lama terbentuk sering kali secara halus “mengembalikan” perempuan ke dapur, tanpa memberi ruang untuk masuk atau menolak.

Perempuan tentu boleh memilih untuk berada di dapur dan mengurus rumah. Namun, ia juga berhak duduk sebagai tamu, menikmati hidangan tanpa rasa, dan merayakan hari raya dengan kebahagiaan yang utuh.

Dah Tahu Ini ?  Presisi Telah Basi

Jika Idul Fitri dimaknai sebagai momentum kesucian, maka seharusnya ia juga menjadi ruang untuk menyucikan hubungan sosial termasuk pembagian peran di dalam rumah.

Bukan untuk menyingkirkan peran perempuan, melainkan memastikan bahwa peran tersebut lahir dari kesadaran dan pilihan, bukan semata-mata tradisi yang diwariskan.

Sudah saatnya kita berpikir bahwa Idul Fitri adalah kebebasan bersama untuk merayakan, menikmati, dan menciptakan keadilan, termasuk bagi perempuan.

Di meja hari raya, semoga kita tidak lagi menempatkan perempuan hanya sebagai penyedia makanan. Semoga tulisan ini menjadi bagian dari perjuangan panjang perempuan di berbagai ruang.

– Afmiah

Bahagia selalu untuk perempuan hebat di seluruh dunia.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
"Berproses dan merayakannya lagi", mungkin ini (menurut saya) adalah gambaran atau kalimat yang paling logis untuk adegan maupun gebrakan yang ada di Tarakan saat ini. Dari masa ke masa ntah kenapa dua hal itu selalu dilupakan dalam meneruskan ekosistem kolektif yang padahal membuat kita terus berada di permukaan yang suram hingga hari ini, seehhhh.
OpiniSeni Budaya

Menyambung Nafas Lewat Punk United Tarakan

Penulis: Luhur Budiman "Berproses dan merayakannya lagi", mungkin ini (menurut saya) adalah...

Jagat media sosial di Kota Tarakan belakangan ini dihebohkan oleh sebuah unggahan naratif dari Direktur Utama (Dirut) PDAM Kota Tarakan, Iwan Setiawan. Dalam postingannya, sang pejabat publik tampak mencoba bersembunyi di balik tameng istilah-istilah hukum pidana, menyikapi laporan resmi yang kami layangkan ke Polres Tarakan terkait dugaan pelanggaran Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).
Opini

Meluruskan Sesat Pikir Dirut PDAM Tarakan: Mengulas Mens Rea, Doxing, dan Keangkuhan Pejabat Publik

Penulis, Fadhil Qobus Ketua Umum HMI Cabang Tarakan Jagat media sosial di...

Opini

ATM, ruang publik untuk uji coba empati yang paling sederhana

Sore hari yang masih terik, deru roda menggilas aspal yang perlahan mulai...

Opini

Idul Fitri, Kaleng Bekas, dan Cerita yang Perlahan Kita Lupakan

Penulis: CIKI Idul Fitri selalu datang dengan cara yang sama gema takbir,...