Penulis: Anonim – Pegiat Literasi
“Syawal menggemuruh, kita masih selalu berada di bulan kemenangan ini”.
Idul Fitri selalu hadir sebagai momentum kebahagiaan dan kesucian. Namun, di balik suasana hangat dan penuh suka cita, ada pola yang sering berulang tanpa kita sadari.
Tulisan ini bercerita bahwa Idul Fitri tidak semata-mata tentang hidangan enak atau tidak, tetapi tentang bagaimana kita menyikapi peran perempuan di baliknya.
Rumah ramai oleh tamu yang silih berganti, meja penuh dengan hidangan menggugah selera, serta ruangan tertata rapi dan indah dipandang. Dalam situasi ini, sering kali perempuan mengambil hampir seluruh peran domestik membersihkan rumah, menyiapkan makanan, dan memastikan semuanya berjalan dengan baik.
Gambaran ini dianggap wajar, seolah-olah sudah seharusnya demikian.
Perempuan menjalani begitu banyak pekerjaan: menanak nasi yang mengepul, meracik kuah yang mendidih, hingga bekerja dengan peluh tanpa henti. Perannya begitu penting, namun sering kali tidak disadari sebagai beban yang terus berulang.
Di sini kita perlu melihat lebih lanjut melalui konsep pembagian kerja berbasis gender (sexdivision of labour).
Di banyak masyarakat, pekerjaan domestik dilekatkan pada perempuan, sementara laki-laki lebih diidentikkan dengan ruang publik. Pola ini membuat kerja-kerja perempuan di rumah menjadi tidak terlihat, bahkan kerap dianggap sebagai kewajiban alami, bukan sebagai kontribusi yang setara.
Pertanyaannya, apakah peran tersebut lahir dari kodrat, atau dari kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi? Idul Fitri seharusnya menjadi momen penyimpanan termasuk beban yang tidak pernah ditanyakan.
Setelah salat Idul Fitri usai, banyak perempuan kembali ke dapur untuk memastikan hidangan tetap tersedia. Di titik ini, penting untuk bertanya: apakah ini benar-benar pilihan yang setara, atau sekadar pola yang terus diproduksi tanpa refleksi? Struktur gender yang telah lama terbentuk sering kali secara halus “mengembalikan” perempuan ke dapur, tanpa memberi ruang untuk masuk atau menolak.
Perempuan tentu boleh memilih untuk berada di dapur dan mengurus rumah. Namun, ia juga berhak duduk sebagai tamu, menikmati hidangan tanpa rasa, dan merayakan hari raya dengan kebahagiaan yang utuh.
Jika Idul Fitri dimaknai sebagai momentum kesucian, maka seharusnya ia juga menjadi ruang untuk menyucikan hubungan sosial termasuk pembagian peran di dalam rumah.
Bukan untuk menyingkirkan peran perempuan, melainkan memastikan bahwa peran tersebut lahir dari kesadaran dan pilihan, bukan semata-mata tradisi yang diwariskan.
Sudah saatnya kita berpikir bahwa Idul Fitri adalah kebebasan bersama untuk merayakan, menikmati, dan menciptakan keadilan, termasuk bagi perempuan.
Di meja hari raya, semoga kita tidak lagi menempatkan perempuan hanya sebagai penyedia makanan. Semoga tulisan ini menjadi bagian dari perjuangan panjang perempuan di berbagai ruang.
– Afmiah
Bahagia selalu untuk perempuan hebat di seluruh dunia. ✨
Leave a comment