TARAKAN — Gelaran Rock on the Street Volume 4 yang berlangsung sukses dan meriah kembali memikat perhatian publik. Aksi kolektif jalanan ini digagas oleh Musikal, sebuah komunitas yang mewadahi para musisi di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara). Kegiatan ini menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat, khususnya anak muda, dengan menghadirkan atmosfer yang jauh lebih semarak dan taburan hadiah yang lebih melimpah dibandingkan edisi sebelumnya.
Parade kali ini mengambil titik kumpul utama di Kedai Eres yang berada di sekitar lampu merah Ladang. Dari sana, para peserta bergerak tertib menyusuri jalan menuju Taman Oval Ladang, lalu mulai menanjak naik gunung dan turun melewati depan Kantor Walikota Tarakan.
Perjalanan berlanjut melewati Kantor Kejaksaan, kemudian rombongan belok masuk di sebelah Markas Kodim Tarakan ke arah Stadion Datu Adil. Setelah memutari area stadion, barisan peserta merangsek masuk ke kawasan Gunung Cakui dan Markoni, sebelum akhirnya finis dengan kembali ke titik awal di Kedai Eres sesaat sebelum waktu magrib tiba.
Ketua Musikal, Dachry Safriyanto Liputo—yang akrab disapa Ayi—menyatakan kegembiraannya atas antusiasme besar yang ditunjukkan oleh para peserta sepanjang jalannya acara sore itu.
“Rock on the Street volume 4 sangat meriah, doorprize-nya makin banyak,” ujar Ayi, Minggu (17/5) sore.
Saat ditanya mengenai detail rute yang baru saja dilewati oleh ratusan peserta, Ayi memaparkan jalur yang cukup panjang tersebut secara berurutan.
“Dari simpang apa, perempatan lampu merah, Datu Adil, terus masuk ke mana tadi, Gunung Cakui, kembali ke sini,” jelas Ayi.
Selain keseruan berjalan bersama, daya tarik kuat dari volume keempat ini terletak pada ragam hadiah yang disiapkan panitia. Berbeda dari gelaran komunitas musik pada umumnya, pembagian doorprize kali ini justru menyentuh kebutuhan dasar yang sangat fungsional, mulai dari beras, Mi Instan (Indomie), hingga paket sembako lainnya. Hal ini membuat suasana di titik finis menjadi sangat cair dan dipenuhi riuh tawa para peserta.
Di sisi lain, keunikan yang tetap menjadi identitas gerakan ini adalah penampilan para pesertanya. Panitia menerapkan aturan berpakaian khusus yang mengikat bagi siapa saja yang ingin bergabung dalam barisan pada edisi berikutnya. Ketika ditanya mengenai bentuk partisipasi penonton untuk volume selanjutnya, Ayi menegaskan bahwa penggunaan atribut musik adalah hal utama.
“Ya terutama yang harus wajib… baju band. Wajib,” kata Ayi menegaskan.
Ia juga menambahkan bahwa aturan identitas visual ini tidak akan berubah untuk gelaran-gelaran mereka di masa depan.
“Untuk volume selanjutnya tetap wajib kaos band,” tambah Ayi memberikan kisi-kisi penutup.
Kesuksesan volume keempat ini langsung diikuti dengan evaluasi dan rencana pengembangan untuk volume kelima. Salah satu poin utama yang sedang digodok oleh pihak panitia adalah penyegaran jalur yang akan dilewati agar memberikan pengalaman baru bagi ekosistem kreatif di Tarakan.
Dewan Pembina Musikal, Herman, memberikan sinyal kuat bahwa pihaknya membuka peluang besar untuk mengeksplorasi wilayah baru agar jalannya parade berikutnya tidak monoton.
Ketika dikonfirmasi mengenai apakah akan ada perubahan rute pada volume 5 nanti, Herman memberikan jawaban singkat namun pasti.
“Kayaknya ada deh,” ungkap Herman optimis.
Sebagai wadah berkumpulnya para musisi Kaltara, Musikal berharap gerakan kolektif ini dapat terus merawat ruang berekspresi yang independen, inklusif, dan mempererat solidaritas antar-musisi di Kalimantan Utara khususnya di kota Tarakan dengan pendekatan yang dekat dengan masyarakat.
Leave a comment