TARAKAN – Musik grindcore menjadi elemen penting dari pertumbuhan sub-musik di genre metal global. Ditemukan dan dikembangkan pada pertengahan 1980-an, genre ini lahir dari perpaduan antara heavy metal dan hardcore punk. Salah satu band yang memelopori adalah Napalm Death dan Siege dari Inggris.
Lalu, apa jadinya jika musik grindcore terhubung dengan Gen Z dan jadi medium pesan resistance dalam menyuarakan suara-suara yang terpinggirkan. Salah satunya, Abutmusoy band grindcore asal Tarakan yang berdiri sejak tahun 2021 ini di isi dengan personel Gen Z.
Hal ini terhubung dengan album ‘Anatomy of Terror’ yang mereka rilis pada tahun 2024 lalu. Frontman sekaligus vokalis Abutmusoy, Aksel Labib Daniswara menyebut bahwa album ini refresentasi menyikapi isu peperangan, genjatan senjata, pemberontakan, dan perampasan hak asasi manusia.
“Di album baru Abutmusoy Anatomi of Error refresentasi ini kan peperangan, genjatan senjata, pemberontakan, perampasan hak asasi manusia. Kami menyuarakan isu-isu global hari ini,” katanya kepada dostep.id , Kamis (11/09/2025).
Apalagi, band ini juga coba memberi sinyal akan merilis EP/mini album yang merespon isu-isu yang dekat dengan Kalimantan hari ini. Mulai dari isu limbah, pencemaran lingkungan, dan deforestasi yang terjadi di masyarakat adat.
“Ini sekalian tumpah juga mini album EP, isinya kurang lebih mengartikan Kalimantan ini banyak isu-isu limbah dan polusi lingkungan. Apalagi sungai di Malinau dan perampasan tanah, kita akan angkat jadi sebuah lirik. Ini jadi respon kami sebagai band yang menyuarakan suara-suara yang terpinggirkan,” tegasnya.
“Ini bentuk perlawanan kami soal masalah masyarakat asli/adat kita yang sedang kesusahan karena kepentingan pribadi dan elit,” tambahnya.
Pihaknya juga akan merencanakan mini show dalam optimalisasi deseminasi karya mini album kedepan. Pihaknya juga akan terus berkomitmen untuk menjaga konsistensi dan kejujuran dalam karya-karya mendatang.
“Kita akan bikin mini show lagi kayak kemaren anatomi teror,” bebernya.
Dirinya juga merespons kondisi komunitas bawah tanah hari ini yang cenderung pasang surut. Komitmennya adalah terus berkarya sehingga merangsang generasi baru bermunculan.
“Melihat situasi komunitas hari ini sedang pasang surut, kami akan terus berkarya sehingga regenerasi akan terus tumbuh, kita akan rangsang dengan selalu berkarya. Melakukan perlawanan dan perjuangan lewat musik,” ujarnya.
“Apalagi, ada generasi baru yang akan membentuk band dengan perjuangan yang sama, kami mendorong selalu melihat isu yang ada khususnya di Kalimantan ini apalagi soal lingkungan,” lanjutnya.
Dalam hal ini, dirinya mendorong para pegiat di komunitas underground agar selalu berkarya hingga komunitas dan genre musik ini dapat dinikmati masyarakat umum kedepan.
“Pesan-pesan kami agar musik-musik yang kami mainkan bisa didengarkan oleh masyarakat umum. Kami mendorong semua yang terus berkarya dan menikmati penyampaian pesan perlawanan,” tutupnya.
Leave a comment