Home Opini Idul Fitri, Kaleng Bekas, dan Cerita yang Perlahan Kita Lupakan
Opini

Idul Fitri, Kaleng Bekas, dan Cerita yang Perlahan Kita Lupakan

Share
Share

Penulis: CIKI

Idul Fitri selalu datang dengan cara yang sama gema takbir, meja yang penuh, dan perasaan pulang yang hangat. Kita merayakan kemenangan, seolah dunia sedang baik-baik saja, seolah semua orang memiliki alasan yang sama untuk tersenyum.

Namun, mungkin tidak semua.

 

Di beberapa sudut kota, di jalan yang jarang kita lihat lebih lama dari sekadar lewat, ada anak-anak yang berjalan tanpa alas kaki. Mereka menunduk, bukan karena malu,karena mencari kaleng-kaleng bekas yang kita tinggalkan setelah perayaan, setelah dahaga kita terlepas, setelah kita merasa cukup.

 

Bagi kita, itu sisa.

Bagi mereka, itu kemungkinan.

Di bawah terik matahari, mereka mengumpulkan apa yang tersisa dari kehidupan orang lain. Tidak banyak yang bisa dikatakan tentang itu, selain sebuah kenyataan yang pelan-pelan kita biasakan. Bahwa ada kehidupan yang tumbuh dari sisa-sisa, dan kita sering kali memilih untuk tidak terlalu lama memikirkannya.

 

Seperti yang pernah diingatkan oleh Roanne van Voorst, bahwa tempat terbaik sekalipun perlahan berubah oleh apa yang kita tinggalkan. Mungkin bukan hanya tempat tetapi juga cerita-cerita kecil yang tumbuh di dalamnya.

Dah Tahu Ini ?  Membaca Literasi Jalanan Tarakan dalam Nafas Arundhati Roy – Catatan Perlawanan Sunyi dari Halaman Masjid dan Pantai Pesisir Binalatung

 

Ada ironi yang tidak selalu ingin kita akui. Di balik industri yang besar dan rapi, ada alur lain yang tidak tercatat: tangan-tangan kecil yang mengumpulkan sisa, langkah-langkah panjang di bawah panas, dan negosiasi sunyi dengan hidup yang tidak pernah benar-benar adil.

 

Namun, anak-anak itu tetap tersenyum mereka polos dan jujur pada apa yang mereka lihat.

Bukan karena semuanya baik, tetapi mungkin karena mereka belum punya pilihan lain selain melanjutkan.

 

Dan di situlah letak kegelisahan itu.

Idul Fitri, yang seharusnya menjadi ruang untuk kembali kepada hati, kepada sesama kadang hanya berhenti pada apa yang terlihat. Padahal, mungkin yang lebih penting adalah apa yang tidak kita lihat, atau yang sengaja kita abaikan.

 

Tulisan ini tidak ingin menyimpulkan terlalu cepat. Tidak juga ingin menghakimi. Hanya ingin mengingatkan, pelan-pelan, bahwa di tengah kebahagiaan yang kita rayakan, ada kehidupan lain yang berjalan bersisian diam, tetapi nyata.

 

Mungkin, kemenangan tidak selalu tentang menjadi suci kembali.

Dah Tahu Ini ?  Presisi Telah Basi

Kadang, ia hadir saat kita memilih untuk lebih peka meski hanya sedikit terhadap dunia yang selama ini kita lewati begitu saja.

 

“Barangkali yang paling berbahaya bukan dunia di luar kita, melainkan hati yang mengeras dan mata yang memilih untuk tidak melihat.”

 

Pemuda Pesisir Indah (PPI) Minal Aidin Wal Faizin Mohon Maaf Lahir Dan Batin Sekian.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Tulisan ini bercerita bahwa hidangan Idul Fitri tidak semata tentang enak atau tidak, tetapi tentang bagaimana kita merespons peran perempuan di baliknya.
Opini

Idul Fitri yang Setara: Membaca Ulang Peran Perempuan di Rumah

Penulis: Anonim - Pegiat Literasi "Syawal menggemuruh, kita masih selalu berada di...

Opini

ATM, ruang publik untuk uji coba empati yang paling sederhana

Sore hari yang masih terik, deru roda menggilas aspal yang perlahan mulai...

Memasuki tahun 2026, puluhan media website lokal saling berebut pembaca dalam wilayah yang jumlah penduduknya bahkan belum menyentuh satu juta jiwa. Jika harus berkompetisi secara brutal dalam ruang sekecil ini, persoalannya menjadi tidak masuk akal.
OpiniUmum

Selamat Tinggal? Media Lokal Kaltara Terancam Tutup Serentak!

Ditulis oleh: Fitri Zulkarnain, Praktisi Rekayasa Sosial dan Pengembang Teknologi Memasuki tahun...

"James C. Scott pernah menulis bahwa negara bekerja dengan cara menyederhanakan kehidupan manusia yang kompleks menjadikannya peta, angka, syarat, dan kategori yang mudah diatur. Dalam proses itu, banyak kehidupan jatuh di luar keterbacaan negara: terlalu rumit, terlalu bergerak, terlalu lintas batas. Loudres adalah salah satu ruang semacam itu sebuah kampung yang hidup justru karena tidak pernah sepenuhnya bisa "dilihat" oleh negara".
OpiniUmum

Malam Natal Di Loudres, Sebatik Indonesia

Penulis: Rizky Fauzy, Literasi Jalanan Ketika Perbatasan Melewati Manusia "James C. Scott pernah...