Penulis: CIKI
Idul Fitri selalu datang dengan cara yang sama gema takbir, meja yang penuh, dan perasaan pulang yang hangat. Kita merayakan kemenangan, seolah dunia sedang baik-baik saja, seolah semua orang memiliki alasan yang sama untuk tersenyum.
Namun, mungkin tidak semua.
Di beberapa sudut kota, di jalan yang jarang kita lihat lebih lama dari sekadar lewat, ada anak-anak yang berjalan tanpa alas kaki. Mereka menunduk, bukan karena malu,karena mencari kaleng-kaleng bekas yang kita tinggalkan setelah perayaan, setelah dahaga kita terlepas, setelah kita merasa cukup.
Bagi kita, itu sisa.
Bagi mereka, itu kemungkinan.
Di bawah terik matahari, mereka mengumpulkan apa yang tersisa dari kehidupan orang lain. Tidak banyak yang bisa dikatakan tentang itu, selain sebuah kenyataan yang pelan-pelan kita biasakan. Bahwa ada kehidupan yang tumbuh dari sisa-sisa, dan kita sering kali memilih untuk tidak terlalu lama memikirkannya.
Seperti yang pernah diingatkan oleh Roanne van Voorst, bahwa tempat terbaik sekalipun perlahan berubah oleh apa yang kita tinggalkan. Mungkin bukan hanya tempat tetapi juga cerita-cerita kecil yang tumbuh di dalamnya.
Ada ironi yang tidak selalu ingin kita akui. Di balik industri yang besar dan rapi, ada alur lain yang tidak tercatat: tangan-tangan kecil yang mengumpulkan sisa, langkah-langkah panjang di bawah panas, dan negosiasi sunyi dengan hidup yang tidak pernah benar-benar adil.
Namun, anak-anak itu tetap tersenyum mereka polos dan jujur pada apa yang mereka lihat.
Bukan karena semuanya baik, tetapi mungkin karena mereka belum punya pilihan lain selain melanjutkan.
Dan di situlah letak kegelisahan itu.
Idul Fitri, yang seharusnya menjadi ruang untuk kembali kepada hati, kepada sesama kadang hanya berhenti pada apa yang terlihat. Padahal, mungkin yang lebih penting adalah apa yang tidak kita lihat, atau yang sengaja kita abaikan.
Tulisan ini tidak ingin menyimpulkan terlalu cepat. Tidak juga ingin menghakimi. Hanya ingin mengingatkan, pelan-pelan, bahwa di tengah kebahagiaan yang kita rayakan, ada kehidupan lain yang berjalan bersisian diam, tetapi nyata.
Mungkin, kemenangan tidak selalu tentang menjadi suci kembali.
Kadang, ia hadir saat kita memilih untuk lebih peka meski hanya sedikit terhadap dunia yang selama ini kita lewati begitu saja.
“Barangkali yang paling berbahaya bukan dunia di luar kita, melainkan hati yang mengeras dan mata yang memilih untuk tidak melihat.”
Pemuda Pesisir Indah (PPI) Minal Aidin Wal Faizin Mohon Maaf Lahir Dan Batin Sekian.
Leave a comment