Apa jadinya puasa tahun ini?

Masjid ditutup.

Pasar ramadhan ditiadakan.

Acara reuni sambil bukber di onlinekan.

Dimana keramaian yang sudah menjadi tradisi di bulan ramadan?

Ini sangat baru. Mungkin yang pertama diperadaban modern manusia (era teknologi). Lalu bagaimana? Apakah semuanya sudah tidak relevan lagi?

Biasanya, masjid merupakan tempat paling mengasyikkan di bulan ramadan. Orang-orang berlomba-lomba pergi ibadah. Anak-anak, pemuda, orang tua, kakek nenek, lelaki perempuan, bahkan yang tidak pernah kamu jumpai di hari-hari biasa bisa menjadi yang paling rajin membantu pengurus masjid membersihkan tikar, dan menyiapkan perlengkapan untuk tadarusan. Sorenya bisa dapat takjil gratis. Beberapa masjid bahkan sudah menjadwalkan menu takjilnya setiap hari selama bulan ramadan. Ini sangat dinantikan, khususnya buat masyarakat yang memang sangat membutuhkan, dan jelas, mahasiswa. Tapi kali ini sepertinya tidak lagi. Mungkin hanya tahun ini, semoga.

Pasar Ramadan. Tiap sore pasti selalu rame. Bau-bau segar menggiurkan beterbangan kesana kemari layaknya melambaikan tangan mengajakmu mampir untuk beli. Terkadang antrian terlalu ramai berdesakan. Pasar ramadan juga bukan hanya digemari konsumer, tapi para penjajak makanan. Ini merupakan waktu yang sangat tepat bagi mereka untuk mendapatkan keuntungan dan berkah lebih baik dibandingkan bulan-bulan lainnya. Tapi kali ini sepertinya tidak lagi. Mungkin hanya tahun ini, semoga.

Buat yang mudik atau pulang kampung. Selalunya banyak ajakan dari teman-teman lama, alumni SMA, SMP, SD, bahkan TK ngejadwalin untuk berkumpul kembali, bernostalgia sambil buka puasa bersama. Ruang-ruang publik seperti cafe-cafe, restoran, dan tempat makan lainnya jelas dapat banyak keuntungan. Bahkan perlu untuk memesan tempat sebelum orang lain datang. Berkumpul kembali dengan kawan lama juga merupakan waktu yang ditunggu-tunggu beberapa orang untuk memamerkan kemajuan dirinya, berbagi cerita lama dengan kawannya, entah saling memperolok sesama, atau terkadang bisa sambil karaokean bersama. Tapi kali ini sepertinya tidak lagi. Mungkin hanya tahun ini, semoga.

Sebagai manusia, kita pasti akan selalu berusaha untuk memaknai lika-liku kehidupan yang kita rasa rumit dan baru. Ibadah tidak beramai-ramai? Bukannya sejak dulu ritual ibadah dianjurkan untuk selalu ramai? Katanya semakin ramai orang yang memanjatkan doa atau meng-amin-i doa sang imam, akan lebih baik daripada bersendiri.

Pasar ramadan? Ini bisa jadi waktu yang sangat tidak diperhitungkan bagi penjajak makanan yang setiap tahunnya selalu meramaikan gerai-gerai pasar ramadan. Keuntungan yang selalunya berkali-kali lipat, kini mungkin hanya 1 lipat atau bisa jadi sama sekali tidak ada lipatan keuntungan. Kemudian, ada yang berniat untuk berkumpul dengan kawan lama? Bahkan mudik pun dianjurkan untuk tidak dilakukan. Beberapa orang bahkan tidak dapat berjumpa keluarga dirumah di bulan ramadan ini, bisa jadi akan berlanjut sampai hari raya. Masa pandemik Covid-19 ini memang sedikit demi sedikit mengikis budaya komunal kita. Tapi apa boleh buat, toh ini juga untuk kebaikan bersama. Anjuran untuk tidak keluar rumah dan social distancing tetap perlu diikuti selagi persebaran virus ini makin menjadi.

Lalu bagaimana kita memaknainya?

Tidak aneh kalau kita mensyukuri kemudahan yang diberikan teknologi. Walaupun tidak dapat bertemu, setidaknya bisa menyapa dan melihat senyum anggota keluarga dapat mengurangi rasa rindu akan rumah. Pasar ramadan yang tidak lagi ada, mungkin memberikan kesempatan bagi para penjual untuk lebih kreatif dalam mempromosikan produknya dimasa pandemik ini. Mungkin online, penggunaan media sosial, atau bekerjasama dengan grab, gojek atau sejenisnya. Bisa-bisa masa pandemik ini akan melahirkan jenis pasar tradisional yang baru. Pasar neo-tradisional, mungkin?

Dan pada akhirnya, ibadah. Kali ini kita perlu memaknai bahwa Tuhan tidak hanya berada di keramaian. Kalau Tuhan memang maha pengasih, maha penyayang, maha mengerti dan maha lainnya, bersendirian pun pastinya diperhatikan. Justru bersendiri dapat membuat kita memiliki waktu lebih untuk merefleksikan apa-apa jadi yang perlu direfleksikan demi membimbing diri sendiri untuk lebih siap berjalan ke arah yang ingin dituju.

Pemaknaan ini mungkin berbeda-beda pada setiap orang. Tapi apapun itu, tetaplah mengikuti apa yang dianjurkan ahli medis dimasa pandemik ini. Semakin patuh kita, semakin cepat kita bertemu kembali.

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.

Semoga tetap betah dirumah, dan tetaplah sehat.