Home Umum LMND Tarakan Tolak Normalisasi Kehadiran Polisi di Dalam Kampus
Umum

LMND Tarakan Tolak Normalisasi Kehadiran Polisi di Dalam Kampus

Share
Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Tarakan menyatakan sikap tegas menolak segala bentuk normalisasi keterlibatan institusi kepolisian dan aparat keamanan di dalam ruang akademik. Ruang kuliah dan mimbar akademik dinilai harus tetap steril dari intervensi kekuasaan demi menjaga perannya sebagai benteng terakhir kritik sosial dan demokrasi.
Share

TARAKAN — Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Tarakan menyatakan sikap tegas menolak segala bentuk normalisasi keterlibatan institusi kepolisian dan aparat keamanan di dalam ruang akademik. Ruang kuliah dan mimbar akademik dinilai harus tetap steril dari intervensi kekuasaan demi menjaga perannya sebagai benteng terakhir kritik sosial dan demokrasi.

Pernyataan sikap ini mencuat merespons forum akademik yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Borneo Tarakan (UBT) bersama Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Utara. Forum tersebut menghadirkan aparat kepolisian, unsur intelijen, dan instrumen negara lainnya dengan fokus pembahasan seputar keamanan, konflik sosial, dan investasi.

Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Kota LMND Tarakan, James, dalam keterangan tertulisnya, menyatakan bahwa kehadiran aparat keamanan dalam ruang-ruang diskusi ilmiah patut dipertanyakan orientasinya. Menurut dia, gejala ini mengarah pada upaya pembatasan kebebasan berpikir.

“Kampus bukan sekadar ruang diskusi formal, melainkan ruang produksi pengetahuan yang merdeka, tempat lahirnya kritik sosial, kontrol terhadap kekuasaan, dan gagasan perubahan masyarakat. Kami melihat ada kecenderungan kampus perlahan diarahkan menjadi ruang legitimasi kebijakan negara dan kepentingan modal,” ujar James, Senin (22/6/2026).

Dah Tahu Ini ?  Adi Nata Kusuma Pimpin Kontingen KORMI Kaltara Berlaga di FORNAS NTB

LMND Tarakan menyoroti adanya ketimpangan narasi dalam forum-forum yang melibatkan aparat penegak hukum di lingkungan kampus. Isu “keamanan investasi” kerap kali dijadikan prioritas utamanya. Sebaliknya, persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat lokal—seperti ketimpangan ekonomi, konflik agraria, perampasan ruang hidup, hingga kriminalisasi aktivis—justru tidak mendapat porsi pembahasan yang setara.

James mengingatkan kembali catatan sejarah bangsa Indonesia, di mana masuknya aparat keamanan secara masif ke ruang sipil dan akademik berpotensi melahirkan budaya takut, pengawasan ketat, dan pengerdilan daya kritis mahasiswa.

“Sejarah mengajarkan bahwa ketika aparat keamanan terlalu jauh masuk ke ruang sipil, termasuk kampus, yang lahir bukanlah demokrasi yang sehat. Mahasiswa tidak boleh lupa bahwa kampus adalah medan perjuangan melawan otoritarianisme, bukan mitra untuk menormalisasi dominasi kekuasaan,” tegasnya.

Lima Poin Desakan

Menyikapi fenomena tersebut, LMND Tarakan mengeluarkan lima poin tuntutan dan desakan mendasar:

  • Menolak Normalisasi Aparat: Menolak segala bentuk kehadiran institusi keamanan di ruang akademik yang berpotensi mengerdilkan kebebasan akademik.
  • Menolak Instrumentasi Kampus: Menolak kampus dijadikan alat legitimasi agenda keamanan negara dan kepentingan investasi yang mengabaikan hak-hak rakyat.
  • Menuntut Independensi UBT: Mendesak Universitas Borneo Tarakan untuk menjaga independensi akademik dengan membuka ruang dialog yang setara bagi organisasi mahasiswa, akademisi kritis, masyarakat adat, nelayan, petani, dan buruh.
  • Menolak Stigmatisasi: Menolak segala bentuk pengawasan, pendataan, maupun stigmatisasi terhadap aktivitas organisasi mahasiswa dengan dalih menjaga stabilitas dan keamanan.
  • Merawat Ruang Intelektual: Mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk mempertahankan kampus sebagai ruang perjuangan intelektual yang berpihak pada keadilan sosial.
Dah Tahu Ini ?  LIKA-LIKU KONSPIRASI COVID-19

Hingga berita ini diturunkan, pihak rektorat Universitas Borneo Tarakan maupun perwakilan Polda Kalimantan Utara belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan sikap dan kekhawatiran yang dilayangkan oleh kelompok mahasiswa tersebut.

Bagi gerakan mahasiswa di Tarakan, sains dan ilmu pengetahuan hanya akan berkembang melalui keberanian untuk mempertanyakan realitas, bukan lewat kepatuhan mutlak terhadap otoritas. Mereka menegaskan bahwa kampus adalah ruang akademis, bukan barak militer atau objek pengawasan keamanan.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Pusaran kasus dugaan investasi bodong bermodus titip dana dan pinjaman berbunga melalui media sosial kian meluas di Kota Tarakan. Berdasarkan data terbaru dari tim penasihat hukum korban, total kerugian yang dialami masyarakat kini ditaksir mencapai lebih dari Rp1,2 miliar dengan puluhan korban yang terjebak dalam skema tersebut.
HukrimUmum

Kasus Investasi Bodong di Tarakan Menggurita: Korban Capai Puluhan Orang, Total Kerugian Terdeteksi Tembus Rp1,2 Miliar

TARAKAN — Pusaran kasus dugaan investasi bodong bermodus titip dana dan pinjaman...

Sari Yuliati secara resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Kolektif (PPK) Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) 1957 periode 2026–2031. Keputusan tersebut diambil secara aklamasi dalam Musyawarah Besar (Mubes) Kosgoro 1957 yang berlangsung dinamis di Jakarta.
Umum

Sari Yuliati Terpilih Aklamasi, Kosgoro 1957 Kaltara Titipkan Agenda Perbatasan

JAKARTA - Sari Yuliati secara resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat...

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Golkar Kalimantan Utara (Kaltara) periode 2025-2030 bergerak cepat di bawah nakhoda kepengurusan Syarwani. Memasuki era baru, partai berlambang pohon beringin ini siap melakukan transformasi besar-besaran, khususnya dalam memperkuat penetrasi informasi dan komunikasi publik.
Umum

Gas Pol Kepengurusan Baru, Golkar Kaltara Siap Mengguncang Ruang Digital

TANJUNG SELOR – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Golkar Kalimantan Utara...