Penulis: Rizky Fauzy
Literasi Jalanan
“Sepak bola bukan sekadar permainan. Ia adalah pintu untuk melihat bagaimana sebuah kota memberi ruang bagi anak-anak untuk tumbuh, bermimpi, dan membangun masa depan bersama”.
Sore itu saya bersama beberapa teman mengunjungi sebuah lapangan di kawasan Gunung Daeng, Kecamatan Tarakan Tengah. Meski awalnya dibangun sebagai lapangan basket, ruang terbuka ini telah berkembang menjadi tempat berkumpul anak-anak, remaja, hingga masyarakat. Ada yang bermain basket, berolahraga, bercengkerama, atau sekadar menikmati sore.
Pemandangan itu membawa saya kembali ke masa kecil. Sebagai anak yang tumbuh di pesisir, ruang bermain bukan sesuatu yang mudah kami miliki. Kami bermain di tanah lapang yang belum dibangun, halaman sekolah, atau ruang kosong apa pun yang memungkinkan sebuah bola terus menggeliding. Bagi kami, ruang bermain bukan sesuatu yang diberikan, melainkan sesuatu yang dicari.
Melihat anak-anak berlari bebas di lapangan itu, saya justru bertanya: mengapa ruang bermain yang aman terasa semakin langka? Kota terus bertumbuh. Bangunan, jalan, dan kawasan usaha terus bertambah. Namun di tengah pembangunan itu, ruang publik tempat anak-anak bermain perlahan menyusut.
Padahal lapangan bukan sekadar tempat berolahraga. Ia adalah ruang belajar yang tidak pernah tertulis di dalam kurikulum. Disanalah anak-anak belajar bekerja sama, menerima kekalahan, menghargai kemenangan, menyelesaikan konflik, dan membangun persahabatan. Sebuah lapangan mungkin hanya hamparan beton atau tanah, tetapi di sanalah masa kecil dan harapan tumbuh bersama.
Setiap empat tahun sekali, ketika Piala Dunia di gelar, gang-gang kampung berubah menjadi tribun kecil. Televisi menyala hingga dini hari, warung kopi dipenuhi perdebatan, dan anak-anak mengenakan kaus tim nasional yang bahkan belum pernah mereka kunjungi. Sepak bola bukan sekadar pertandingan. Ia adalah bahasa yang dipahami hampir semua orang.
Yang menarik, anak-anak di pesisir, kampung, dan pinggiran kota mengenal nama-nama seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Kylian Mbappé, atau Lamine Yamal, meski mereka belum pernah menginjakkan kaki di stadion megah. Mereka mengenal para pemain itu dari televisi, media sosial, cerita teman, atau kaus sepak bola yang mereka kenakan. Dari sana, sepak bola menjadi pintu kecil yang memperkenalkan mereka pada dunia yang lebih luas.
Saya pun teringat masa kecil. Hampir semua teman sebaya memiliki kaus sepak bola, meski lapangan yang kami miliki jauh dari kata ideal. Tidak ada rumput hijau, tribun penonton, ataupun fasilitas lengkap. Ketika satu ruang tertutup pembangunan, kami mencari ruang lain. Tanah kosong, halaman sekolah, atau gang kecil berubah menjadi arena pertandingan.
Seperti pemain yang menjemput bola sebelum membangun serangan, kami belajar memanfaatkan ruang yang tersedia.
Pengalaman itu menyisakan pertanyaan yang masih relevan hingga hari ini: mengapa ruang bermain yang layak lebih mudah ditemukan di pusat kota, sementara anak-anak di kampung dan pesisir harus berjuang mencarinya?
Pembangunan sering diukur dari gedung tinggi, jalan baru, atau kawasan bisnis yang semakin modern. Namun sebuah kota juga dibangun dari ruang-ruang kecil tempat anak-anak berlari, tertawa, dan belajar hidup bersama. Lapangan kecil bukan hanya tempat menendang bola. Di sanalah mereka belajar disiplin, kerja sama, sportivitas, dan keberanian bangkit setelah kalah.
Karena itu sepak bola begitu dekat dengan kehidupan banyak anak.
Saya teringat dua film Indonesia, Garuda di Dadaku dan Cahaya dari Timur: Beta Maluku. Keduanya memperlihatkan bahwa sepak bola bukan hanya tentang mengejar kemenangan, tetapi juga tentang memperjuangkan kesempatan dan memulihkan harapan. Lapangan bukan sekadar tempat bertanding, melainkan ruang yang menyatukan manusia.
Pengalaman itu terasa akrab bagi banyak anak Indonesia. Ketika lapangan tidak tersedia, mereka tetap bermain di gang sempit, tanah kosong, atau halaman sekolah. Dalam istilah sepak bola, mereka terus mencari ruang ketika permainan terasa sempit. Mereka tidak menunggu keadaan sempurna. Mereka bermain dengan apa yang mereka miliki.
Sepak bola juga mengajarkan bahwa permainan ini lebih besar daripada menang dan kalah. Ia dapat menjadi bahasa solidaritas. Hal itu pernah terlihat ketika Javier Zanetti dan sejumlah pemain Inter Milan menunjukkan kepedulian kepada komunitas Zapatista di Chiapas, Meksiko. Dari sana kita belajar bahwa bola tidak hanya berpindah dari kaki ke kaki, tetapi juga membawa pesan kemanusiaan.
Pada akhirnya, “menjemput bola” bukan sekadar istilah dalam sepak bola. Ia adalah cara hidup yang dipelajari banyak anak di kampung, pesisir, dan pinggiran kota. Ketika lapangan tidak tersedia, mereka menciptakan lapangan. Ketika gawang tidak ada, dua sandal atau batu menjadi penandanya. Ketika rumput hijau hanya hadir di layar televisi, tanah berdebu tetap cukup untuk menumbuhkan mimpi.
Hidup pun demikian. Tidak semua orang memulai dari ruang yang sama. Tidak semua anak memperoleh kesempatan yang setara. Namun selalu ada keberanian untuk bergerak, mencari celah, dan terus menggiring harapan.
Karena itu, persoalan lapangan sepak bola bukan sekadar persoalan fasilitas. Ia adalah persoalan bagaimana kita memandang masa depan anak-anak. Apakah mereka memiliki ruang untuk tumbuh? Apakah mereka memiliki tempat untuk bermimpi?
Di tengah kemeriahan sepak bola dunia, kita sering lupa bahwa di balik setiap pemain besar selalu ada seorang anak yang pernah mengejar bola di tanah lapang sederhana. Sebelum lahir Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Kylian Mbappé, atau Lamine Yamal, selalu ada seorang anak yang lebih dahulu membangun mimpinya dari ruang yang terbatas.
Barangkali ukuran kemajuan sebuah negara bukan hanya seberapa megah stadion yang dibangun atau berapa banyak trofi yang dimenangkan. Ia juga dapat diukur dari seberapa mudah seorang anak menemukan ruang untuk bermain tanpa harus merebutnya lebih dahulu.
Esai ini lahir dari pengalaman Ciki sebagai pemuda pesisir di Indah Beringin Timbunan, Tarakan, yang mengenal sepak bola bukan dari stadion megah, melainkan dari tanah lapang sederhana, permainan bersama kawan-kawan, dan mimpi yang tumbuh di tengah keterbatasan.
Selama masih ada anak-anak yang berlari mengejar bola di gang sempit, tanah lapang, pesisir, dan pinggiran kota, harapan belum benar-benar hilang. Sebab setiap anak yang mengejar bola sesungguhnya sedang mengejar sesuatu yang lebih besar daripada kemenangan: hak untuk bermain, hak untuk bermimpi, dan keyakinan bahwa masa depan masih menyediakan ruang bagi mereka.
Beberapa referensi dalam tulisan ini menggunakan sepak bola dan budaya populer sebagai gambaran tentang harapan serta perjuangan anak-anak. Film Garuda di Dadaku (2009) dan Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014) menjadi inspirasi dalam melihat sepak bola sebagai ruang tumbuh, persatuan, dan perjuangan meraih kesempatan.
Nama-nama pemain seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Kylian Mbappé, dan Lamine Yamal digunakan sebagai simbol bahwa sepak bola mampu menghadirkan mimpi bagi anak-anak di berbagai tempat, termasuk mereka yang jauh dari fasilitas olahraga yang memadai.
Tulisan ini bukan hanya tentang sepak bola, tetapi tentang ruang bermain, kesempatan, dan harapan anak-anak untuk tumbuh serta membangun masa depan.
Leave a comment