Home Musik Eksplorasi Solidaritas dan Keresahan Sosial dalam EP Perdana DEMOS69, “From Friends For Friends”
MusikUmum

Eksplorasi Solidaritas dan Keresahan Sosial dalam EP Perdana DEMOS69, “From Friends For Friends”

Share
Share

TARAKAN – ​Bagi sebagian orang, musik hardcore mungkin hanya terdengar seperti deru distorsi yang pekak dan ekspresi kemarahan yang meluap-luap. Namun, bagi unit hardcore asal Tarakan, DEMOS69, genre ini adalah sebuah meja bundar. Ia adalah ruang domestik tempat bertukar pikiran, merawat warisan kolektif, sekaligus menjadi corong pengeras suara untuk mengamplifikasi keresahan urban yang kerap luput dari radar arus utama.

​Sejak memancangkan fondasinya pada tahun 2018, DEMOS69 telah melewati berbagai dinamika—mulai dari pasang surut skena lokal hingga evolusi personal. Memasuki tahun 2026, kolektif ini kembali menegaskan eksistensinya lewat peluncuran EP perdana bertajuk “From Friends For Friends”. Sebuah manifesto sonic yang tidak hanya merayakan ketahanan spiritual pertemanan mereka, tetapi juga potret kritis atas realitas sosial di Kalimantan Utara.

Para Inisiator dan Etos “Persahabatan”

​Judul EP ini bukanlah sebuah jargon usang yang dipilih secara acak. Diperkuat oleh formasi teranyar mereka—Rbex (Vokal), Kimb (Gitar), Ald (Drum), dan Hartm (Bass)—kata “Persahabatan” diletakkan sebagai fondasi ideologis. Di luar urusan rekaman, para personel DEMOS69 adalah representasi dari figur “abang-abangan” dalam lanskap kultural lokal.

Merekalah barisan mentor sekaligus kolaborator yang menginisiasi dan menggagas awal mula pergerakan gigs bawah tanah di bumi Paguntaka, jauh sebelum ekosistem subkultur di Kalimantan Utara tumbuh seramai hari ini.

Dah Tahu Ini ?  Bagaimana bersikap dengan karya yang tidak kita suka

​”Kami bukan cuma sebatas band, lebih ke keluarga yang tumbuh bareng, tempat buat saling bertukar pikiran, ngelewatin fase susah, beda pendapat, sampai tetap bertahan,” ungkap mereka lewat wawancara online bersama tim redaksi dostep.

​Pendewasaan kolektif ini terasa instan begitu kita memutar trek pembuka sekaligus single pertama mereka, “Brother Coffee Grinder”. Lagu ini bertindak sebagai jangkar, sebuah titik tolak yang menyatukan komitmen para personel untuk merampungkan proyek EP ini. Dibandingkan dengan materi awal mereka di tahun 2018 yang cenderung mentah dan spontan, DEMOS69 versi 2026 menawarkan agresi yang jauh lebih terarah. Ada presisi dalam penulisan aransemen tanpa sedikit pun mengorbankan intensitas emosi yang menjadi cetak biru musik mereka.

​Sebagai band yang lahir dari rahim komunitas underground, DEMOS69 menolak untuk menutup mata terhadap ketimpangan di sekitar mereka. Melalui trek berjudul “Bangos”, mereka melepas kritik tajam yang diarahkan langsung pada sistem layanan kesehatan publik, khususnya diskriminasi yang kerap dialami oleh pasien jaminan kesehatan negara.

​”Sudah bukan rahasia umum bahwa masih ada perbedaan yang dirasakan antara pelayanan pasien BPJS dan pasien umum,” cetus mereka.

Dah Tahu Ini ?  Ketua PWI Kaltara Didesak Mundur, Dituding Tak Jalankan Roda Organisasi

“Kami melihat adanya ketimpangan dalam pelayanan, mulai dari proses, sikap, hingga kecepatan penanganan. Pada dasarnya semua orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak dan setara,” statementnya.

​Kemarahan yang jujur ini berhasil ditangkap dengan apik melalui proses rekaman yang intens di Repoeblik Rakjat Merdeka Records. Menghindari jebakan produksi digital modern yang sering kali terlalu “bersih” dan mekanis, DEMOS69 memilih pendekatan yang lebih organik. Banyak bagan lagu yang direkam menggunakan metode live take, bahkan membiarkan beberapa detail terdengar “kasar” demi mempertahankan energi mentah dan otentisitas performa panggung mereka.

Intimasi “ROOMPAU #3” dan Denyut Nadi Skena Utara

​Energi dari rekaman tersebut akhirnya tumpah ruah pada 11 April 2026 lalu di Cafe Doremi, Tarakan lalu. Bertajuk “ROOMPAU #3”, pesta rilis ini menjadi bukti nyata bagaimana slogan Ejaculatedzine—”Memasyarakatkan Musik… Memusikan Masyarakat”—diterjemahkan di lapangan oleh para pelopornya.

​Malam itu, batas antara penampil dan penonton melebur total. Skena underground Tarakan yang eksklusif namun hangat menyambut nomor-nomor baru DEMOS69 dengan liat. Kehadiran nama-nama seperti Struggle Alone, Bombay, Bong Botol, dan Razorblade di atas pamflet malam itu bukan sekadar pelengkap daftar penampil. Mereka adalah representasi dari ekosistem yang tumbuh bersama di aspal yang sama.

Dah Tahu Ini ?  Derana lepas teaser single pertama mereka

​Realisasi dari malam intim tersebut tidak lepas dari peran krusial kolektif lokal seperti Punk United Tarakan dan Raw From The North. Bagi DEMOS69, dukungan kolektif adalah pasokan oksigen utama yang menjaga mereka tetap bernapas selama hampir satu dekade.

​Bagi DEMOS69, hardcore di Tarakan harus berfungsi lebih besar dari sekadar komoditas hiburan akhir pekan. Ia adalah medium edukasi, ruang diskusi, dan alat pemantik kesadaran sosial.

​Pasca-selebrasi “From Friends For Friends”, kuartet ini menolak untuk berpuas diri. Target mereka berikutnya adalah meluaskan jaringan komunal melampaui batas geografis Kalimantan Utara. Rencana pergerakan tur menyisir kota-kota di Kalimantan hingga cetak biru kolaborasi lintas daerah kini tengah digodok.

​Pada akhirnya, “From Friends For Friends” adalah pembuktian bahwa dari sudut kota kecil di ujung utara Borneo, sebuah pesan solidaritas yang tulus, jejak sejarah kolektif yang panjang, dan distorsi yang jujur mampu bergaung, mendobrak sekat-sekat kenyamanan, dan mengingatkan kita kembali: bahwa dalam musik dan pertemanan, kita tidak pernah sendirian.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Pusaran kasus dugaan investasi bodong bermodus titip dana dan pinjaman berbunga melalui media sosial kian meluas di Kota Tarakan. Berdasarkan data terbaru dari tim penasihat hukum korban, total kerugian yang dialami masyarakat kini ditaksir mencapai lebih dari Rp1,2 miliar dengan puluhan korban yang terjebak dalam skema tersebut.
HukrimUmum

Kasus Investasi Bodong di Tarakan Menggurita: Korban Capai Puluhan Orang, Total Kerugian Terdeteksi Tembus Rp1,2 Miliar

TARAKAN — Pusaran kasus dugaan investasi bodong bermodus titip dana dan pinjaman...

Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Tarakan menyatakan sikap tegas menolak segala bentuk normalisasi keterlibatan institusi kepolisian dan aparat keamanan di dalam ruang akademik. Ruang kuliah dan mimbar akademik dinilai harus tetap steril dari intervensi kekuasaan demi menjaga perannya sebagai benteng terakhir kritik sosial dan demokrasi.
Umum

LMND Tarakan Tolak Normalisasi Kehadiran Polisi di Dalam Kampus

TARAKAN — Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Tarakan menyatakan sikap...

Sari Yuliati secara resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Kolektif (PPK) Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) 1957 periode 2026–2031. Keputusan tersebut diambil secara aklamasi dalam Musyawarah Besar (Mubes) Kosgoro 1957 yang berlangsung dinamis di Jakarta.
Umum

Sari Yuliati Terpilih Aklamasi, Kosgoro 1957 Kaltara Titipkan Agenda Perbatasan

JAKARTA - Sari Yuliati secara resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat...