Lagi-lagi konspirasi. Ya, tulisan kali ini akan kembali lagi membicarakan tentang teori konspirasi dibalik wabah Covid-19. Pada tulisan sebelumnya memang sudah sedikit menyentil isu ini, tapi dengan makin maraknya isu-isu baru semenjak abangmu, ya abangmu, Jerinx berceramah tentang hal-hal rumit di balik wabah ini. Perlu rasanya untuk kembali menata cara pandang kita.

Sebenarnya, dalam lubuk hati saya yang terdalam, saya sangat menghormati abangmu itu. Musisi hebat, pebisnis sukses, dan aktivis lingkungan yang kuat menyuarakan penolakannya terhadap isu-isu lingkungan di Bali, salah satunya yang paling populer adalah Bali tolak reklamasi. Saya juga cukup menghargai cara pandangnya yang skeptikal dalam memaknai bencana wabah Covid-19 di seluruh dunia ini. Dengan perspektif yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya, bang Jerix terlihat keren untuk fans die hard-nya. Tapi sayangnya, informasi dan bahan bacaan yang dia konsumsi nampaknya memang sedikit atau bahkan sangat miring rasanya.

 

Elit Global?

Elit global (illustrasi)

Jerinx menyuarakan isu tentang adanya satu kalangan penguasa global yang sudah lama merencanakan bencana ini terjadi demi keuntungan mereka. Berasumsi bahwa media-media mainstream hanya memberikan kabar berita yang sudah diatur sedemikian rupa oleh kalangan penguasa global tadi untuk mengontrol masyarakat dunia. Seterusnya, pendapatnya mengenai sang virus adalah produksi laboratorium, bahayanya teknologi seperti 5G, maupun penipuan dari komunitas kesehatan dunia sampai anti terhadap vaksin.

Siapa yang tidak tertarik dengan hal-hal yang bersifat misterius? Pengalamanku, satu dekade lalu (tahun 2010-an) di tahun pertama sebagai mahasiswa, aku pun juga senang membaca berita-berita dan narasi konspirasi tentang berbagai isu. Manusia sudah ter-wired di otaknya untuk tertarik dengan hal-hal seperti ini. Berusaha memaknai sesuatu kejadian yang terlihat acak dan mencoba untuk menyusunnya sesuai dengan perasaan agar terlihat dan terasa memiliki keterkaitan antara satu sama lain. Dalam kaitannya dengan teori kognitif yang dijelaskan dalam buku Reza Aslan berjudul “God: A Human History“, kemampuan kita untuk membuat perkaitan antara satu fenomena dengan fenomena lain yang sebenarnya acak tadi, agar kemudian masuk akal (make sense) dan memudahkan kita untuk mendeteksi bahaya untuk bertahan hidup disebut dengan Hypersensitive Agency Detection Device (HADD). Ini manusiawi, sudah terbentuk sejak nenek moyang Hominid kita yang masih berjalan bungkuk dan berbulu.

Lalu, apa hubungannya dengan konspirasi tadi? Nah kan, kita menanyakan tentang hubungannya.

Umumnya kita dapat memetakan pola pemikiran teori-teori konspirasi yang selalu terlihat sama. Entah berkaitan dengan Bumi datar, UFO, pendaratan ke bulan, Komunitas rahasia, Covid-19 dan masih banyak lagi. Para konspirator selalu meninggalkan jejak yang sama.

  1. Perasaan untuk terlihat spesial dengan pengetahuan dan cara pandang berbeda.
  2. Membuat framing dan cara pandang tentang adanya sekelompok individu yang kuat dan kaya yang mengendalikan politisi, media, teknologi, sains dan lainnya di seluruh dunia dengan rencana jahat yang mengancam masyarakat dunia.
  3. Ketidakpercayaan terhadap sebagian besar lembaga tradisional, terutama yang memiliki kredensial internasional. Contoh: Lembaga sains, NASA, WHO dan masih banyak lagi.
  4. Ketidakpercayaan terhadap narasi atau pemberitaan yang diterima secara luas.
  5. Ketidakpercayaan terhadap para ahli.
  6. Memilih data yang sesuai dengan asumsi awal dan tidak menerima bukti dan narasi yang tidak sesuai dengan yang diasumsikan di awal.
  7. Ketidaknyamanan dan keraguan terhadap suatu misteri yang tidak diketahui.
  8. Kesulitan memahami peristiwa yang memiliki banyak penyebab.
  9. Melabeli orang-orang yang tidak setuju dengan mereka sebagai orang yang dicuci otak, diperdaya atau tertutup.
  10. Ketidakpercayaan terhadap “media mainstream“.
  11. Memandang dunia sebagai peperangan antara kebaikan dan kejahatan, hitam dan putih.
  12. Ketergantungan yang besar pada media sosial.

Jika kamu merasa ada kesesuaian dengan dirimu terhadap beberapa poin-poin diatas, jangan khawatir. Itu berarti bahwa kamu adalah manusia pada umumnya. Maksud saya, siapa sih yang tidak memiliki perasaan untuk mempertanyakan suatu narasi atau berita yang tersebar luar di era post-truth ini? Dan bukankah akan terasa keren menjadi bagian dari orang-orang baik yang menentang penguasa global, kelompok pencuri kebebasan, yang mampu menimbulkan kerugian pada umat manusia? Begitupun dengan saya.

Dengan asumsi ini, cara pandang tentang adanya elit global, WHO, Bill Gates dan sebagainya yang digaungkan bang Jerinx, yang merupakan orang-orang yang bertujuan jahat untuk menguasai dunia terlihat seperti cerita-cerita novel, manuskrip keagamaan atau juga mirip plot-plot film Hollywood. Cara pandang terhadap dunia yang hitam dan putih ini menurutku sangat dogmatis. Apalagi tanpa adanya bukti yang pasti. Kita kini hidup di era teknologi informasi, bukan lagi di masa mukjizat orang-orang suci menjadi nyata dapat terjadi. Kalaupun memang ada plot seperti ini, Edward Snowden sudah pasti akan membeberkannya.

Pada kenyataannya dunia itu penuh dengan warna. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Membatasi dirimu untuk melihat dan menilai dunia dengan dua warna saja, menurutku kau akan tertinggal dan akan menjadi usang. Kecurigaanmu terhadap penguasa global, media yang dikontrol, tujuan-tujuan rahasia untuk menguasai dunia tidak akan ada artinya. Dengan kecepatan informasi yang tersebar di dunia maya, seharusnya kita bisa lebih bijak untuk melakukan cek ulang kebenaran dari suatu berita yang kita baca, mencari kebenaran yang berdasarkan bukti dan fakta, atau mungkin ikut mengambil peranan sebagai ahli atau ilmuan. Oh ya, untuk melakukan cek terhadap berita yang kalian rasa mencurigakan, boleh mengakses website snopes.

 

5G dan Covid-19

Kemudian, bagaimana dengan kabar burung konspirasi yang mengatakan bahwa teknologi jaringan seluler generasi kelima (5G) memiliki dampak yang berbahaya bagi kesehatan dan berperan dalam penyebaran virus Covid-19?

Ya, isu yang satu ini sangat hangat di Eropa. Sampai-sampai beberapa minggu silam ada lebih dari 10 tower 5G di UK ditumbangkan dan dibakar oleh kaum fanatik yang mempercayai teori konspirasi ini. Apakah ini perlu dilakukan? Perlukah menolak teknologi ini?

Isu yang satu ini muncul dikarenakan sebuah asumsi yang mengaitkan awal mula percobaan dan instalasi teknologi 5G di Cina pada bulan Oktober 2019, yang kemudian menyebabkan Covid-19 muncul dan menyebar pula kali pertama di dataran Cina. Ini menurutku adalah asumsi yang sangat tidak masuk akal dan memperlihatkan kalau si pembuat teori konspirasi ini tidak paham sama sekali mengenai apa itu virus dan apa itu 5G.

Teknologi 5G adalah generasi kelima dari jaringan seluler (mobile network) yang mulai ditawarkan dengan luas oleh beberapa penyedia jasa jaringan seluler di negara-negara besar pada awal tahun 2020. Negara-negara seperti Cina, Korea selatan, Amerika dan beberapa negara di Eropa sudah mulai menggunakannya sejak awal tahun 2020. Teknologi 5G merupakan pengembangan dari jaringan seluler generasi ke empat atau 4G, yang umum kita gunakan sekarang. Apa perbedaannya? Singkatnya, 5G memberikanmu akses internet data 500% lebih cepat dari 4G, dan juga lebih stabil.

Lalu bagaimana cara kerjanya? Sama dengan Jaringan seluler generasi sebelumnya yang juga memanfaatkan gelombang radio, tetapi dengan frekuensi yang lebih tinggi. Mungkin ada yang langsung curiga, “Wah gelombang frekuensi tinggi? Itu kayaknya yang bahaya, yang bikin si 5G berpengaruh sama kesehatan, yang bisa-bisa menjadi penyebab menurunnya sistem imun dan membuat Covid-19 berkembang di badan kita!”

Frekuensi Jaringan Seluler. (Sumber: The Guardian)

Sebelum menarik kesimpulan dengan kecurigaan, kita perlu tahu dulu dengan jenis frekuensi gelombang elektromagnetik yang berbahaya dan tidak berbahaya. Dapat kita lihat pada gambar di bawah yang bersumber dari website The Guardian. Frekuensi suara, sinyal radio, TV, 3G-5G masih berada pada spektrum elektromagnetik non-ionizing. Maksudnya, gelombang elektomagnetik pada spektrum ini tidak akan mempengaruhi kesehatan atau bahkan sistem imun kita. Spektrum non-ionizing hanya membuat sesuatu menjadi panas, contohnya seperti penggunaan microwave untuk makanan. Itu sama sekali tidak akan berdampak apa-apa dengan tubuh, apalagi pada spektrum ini kita bisa membatasi dampaknya. Maksudnya kita dapat mengatur seberapa kuat frekuensi yang kita perlu gunakan untuk memanaskan suatu benda.

Spektrum Elektromagnetik. (Sumber: The Guardian)

Kemudian ada pula spektrum elektromagnetik ionizing, yang sangat berbahaya. Contohnya seperti sinar ultraviolet, sinar-X dan sinar gamma. Frekuensi tinggi pada spektrum ini sangat beradiasi dan dapat merusak Inti sel, DNA, penyebab kanker dan masih banyak lagi. Jadi, selama teknologi jaringan seluler kita masih berada pada spektrum non-ionizing, kita aman. Lagipula bila teknologi yang akan diterapkan berbahaya bagi kesehatan, kita punya banyak peneliti dan ahli kesehatan yang pasti akan menolak penggunaannya. Percayakan pada para ahli!

Kemudian lagi, kita perlu tahu kalau virus itu berbentuk fisik. Amat sangat salah faham bila berasumsi bahwa sesuatu yang berbentuk fisik dapat dihantarkan melalui gelombang elektromagnetik. Jaringan 5G tidak akan berpengaruh atau menghantarkan benda fisik apapun untuk masuk kedalam tubuhmu. Itu cuman gelombang radio!

Lalu mengapa muncul persepsi bahwa teknologi ini sangat berbahaya? Hal ini umum, selalu muncul disetiap pengembangan teknologi baru. Komunitas teori konspirasi punya banyak cara untuk menggiring narasi yang “Anu”. Contohnya nih pada akhir abad ke-19 di Amerika, dimasa awal mula instalasi lampu jalan mulai di gunakan semenjak diperkenalkan oleh pak Thomas A. Edison. Beberapa komunitas menolak karena mereka beranggapan bahwa cahaya lampu jalan dari bohlam punya radiasi yang tidak baik bagi kesehatan, dan daya listrik untuk menghidupkannya sangat berbahaya. Mereka beranggapan hal ini dapat menyebabkan siklus normal tidur seseorang akan terganggu. Beberapa komunitas agama bahkan menolak karena beranggapan teknologi ini melawan kehendak Tuhan yang sudah dengan baik dan sempurna menyeimbangkan dan memberikan perbedaan pada siang (terang) dan malam (gelap).

Begitulah sejarah, selalu terulang kembali dan hal-hal baru pasti dibumbui dengan penolakan-penolakan yang terkadang tak berdasar dan belum memiliki bukti yang pasti. Apalagi di masa persebaran informasi yang tidak ada habisnya di dunia maya, dan dengan ikut aktifnya publik figur menyuarakan konspirasi ini, bisa-bisa fans beratnya pun ikut percaya. Jangan ya! Ada baiknya bagi kita untuk jeli dalam mencari informasi yang bersumber dari bukti dan fakta yang jelas berdasarkan riset para ahli.

 

Covid-19, virus ciptaan yang sengaja dilepas?

Bill Gates melalui Ted Talk pada 4 April 2015 mempresentasikan ancaman baru bagi umat manusia, yang banyak orang bilang adalah prediksinya tentang wabah di masa depan. Dapat kalian saksikan pada tautan ini. Dalam perbincangannya, pak Gates menjelaskan bahwa tidak akan ada negara yang siap bila ada pandemi besar yang merebak ke seluruh dunia. Bill Gates memunculkan hipotesis ini dengan melihat pola negara-negara dunia dalam menangani pandemi seperti SARS, MERS dan Ebola. Dia mencoba untuk mengingatkan dan menyarankan setiap negara-negara di dunia untuk bersiap bila saja terjadi hal yang tidak diinginkan. Dalam hal virus dan pandemi ini, kita harus berpikir hal yang terburuk, agar kita punya kesiapan dalam menangani.

Hal ini lah yang memunculkan teori konspirasi yang menyatakan kalau Bill Gates dan WHO-nya sudah dari awal berencana untuk memproduksi virus mematikan untuk disebarkan ke seluruh dunia. Dengan berbagai macam tujuan, demi keuntungan ekonomi dalam penjualan obat-obatan dan vaksin, sampai kepada tujuan elit global untuk mengurangi populasi dunia. Plot yang klasik dan komikal, memang.

Jadi? Betul kah kalau si Covid-19 ini buatan lab virus di Wuhan seperti yang konspirasi teoris bilang? Apalagi dengan mencocokkan lokasi 2 laboratorium virologi di Cina yang jaraknya tidak begitu jauh dari Wet market, Wuhan. Tempat yang disebut-sebut sebagai lokasi penjangkitan Covid-19 pertama.

Jawabannya adalah seperti ini: Dari sekian banyak penelitian terhadap virus novel Corona 2019 ini, tidak ada ditemukan bukti kalau virus ini dibuat sengaja di laboratorium. Tidak ada!

Lebih lanjutnya, kalian bisa membaca kembali tulisan saya sebelumnya pada tautan ini. Di tulisan itu sudah saya coba jelaskan kenapa Covid-19 bukanlah virus buatan dan alasannya kenapa muncul di Cina.

Pada akhirnya, saya tetap berterimakasih dengan abang Jerinx, yang dengan jebar-jeberannya di media sosial tentang Covid-19 dan teori konspirasinya membuat saya mencoba untuk mencari tahu lebih banyak lagi tentang si Covid ini. Kita memang punya kecenderungan untuk mempercayai teori-teori konspirasi, tapi dengan kemudahan teknologi, kita dapat memanfaatkannya tidak hanya untuk mencari hiburan atau menambah ketenaran di media sosial, tapi lebih bijak untuk belajar, mencari tahu, mendalami dan memahami isu-isu terbaru yang dapat menyesatkan. Harapannya, selama di rumah aja, kita mampu juga mengedukasi keluarga tentang fakta yang ada, bukan justru membantu menyebarkan berita-berita yang justru dapat merugikan orang lain. Rujuklah para ahli, hindari pendapat yang tiada bukti.

Satu lagi, jangan menyalahkan Jerinx atau konspirasi teoris. Selama manusia memiliki ketertarikan akan hal-hal misteri, skeptisisme, dan perasaan ingin berbeda dan benar dibandingkan kelompok lain, konspirasi akan selalu relevan. Salahkanlah dirimu yang mudah percaya dan kurang bijak menyaring berita dan informasi yang ada. persenjatai dirimu dengan ilmu, bukan kecurigaan tanpa dasar.

“Kita tidak hanya melawan epidemi/pandemi, tetapi juga melawan infodemi”

– Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur jendral WHO –

 

Wabah Covid-19 ini juga mengajarkan kita bahwa tidak perduli kau siapa, beragama apa, suku apa, dari negara mana, pendukung partai apa, pebisnis dan pekerja, lelaki dan perempuan, tua ataupun muda mulai memahami bahwa saling bekerjasama, menyisihkan perbedaan yang ada, bertukar informasi yang baik demi kebaikan bersama adalah lebih baik daripada perdebatan yang tidak ada habisnya dan tanpa solusi apa-apa. Kita sama-sama manusia, yang sama-sama ingin bertahan hidup melewati cobaan yang ada.

Sehat selalu buat kalian dan keluarga di rumah!