Siapa yang tidak tertarik dengan teori konspirasi?

We all love it. A lot!

Tak perlu mencari bukti relevan ataupun data penemuan. Cukup spekulasi, pesimistis dan cocoklogi, pembicaraan di warung kopi akan terdengar wow dan menarik interest orang lain untuk mendengarkan dengan teliti.

Begitulah kita, manusia memang tertarik dengan hal-hal yang berbau dan terdengar misterius, menunjukkan bahwa ada aktor jahat dibalik satu kekacauan, mengkambing-hitamkan orang-orang atau negara-negara yang dianggap maju, dan spekulasi-spekulasi lainnya yang pikiran liar kita bisa bayangkan.

Tidak berbeda dengan pandemik besar tahun ini. Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) atau 2019 Novel Coronavirus (2019-nCoV) atau SARS-CoV2 yang merebak dan muncul pertama kali di kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina pada Desember 2019 kemarin menjadi perbincangan banyak orang.

Tempo hari (3 April), saya mencoba membuat poling pada Instagram story saya dan menanyakan pendapat kawan-kawan tentang virus ini. Apakah ini senjata biologis yang sengaja dilepaskan untuk kepentingan aktor atau kelompok tertentu? Atau bertujuan untuk mengurangi populasi dunia mungkin? Terdengar seperti novel Inferno tulisan Dan Brown, kan?

Hasilnya, 62% orang masih menjawab “YES”. Mereka meyakini atau berspekulasi kalau Covid-19 memang senjata biologis yang sengaja dilepaskan.

BENARKAH ???

Dari mana sih sebenarnya isu konspirasi kalau si Covid-19 ini dianggap sebagai senjata biologis? Media sosial memainkan peranan. Banyak konspirasi teoris yang membuat postingan, baik Instagram, Twitter, Youtube, Facebook, dan media sosial lainnya yang pada akhirnya sampai ke Whatsapp grup keluarga (ini bagian yang menakutkan).

Beberapa juga berasal dari politisi-politisi. Di Amerika contohnya, salah seorang senator membuat cuitan di Twitter-nya yang menyatakan kalau kemungkinan virus ini diciptakan di laboratorium virus di Wuhan yang menyimpan patogen-patogen berbahaya dari seluruh dunia untuk penelitian, termasuk di dalamnya, virus corona.

Kaum cocoklogi pasti akan tertarik nih. Ada dua laboratorium virus di Cina yang tidak begitu jauh jaraknya dari pasar binatang liar di Wuhan atau biasa disebut Wuhan wet market yang disebut-sebut tempat dimana virus ini berkembang. Wuhan Center for Disease Control and Prevention dan Wuhan Institute of Virology, yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari pasar itu. Lalu apakah dengan fakta itu sudah cukup?

Seperti yang seharusnya kita pahami sama-sama, jarak bukan bukti yang cukup dan jelas (ya iyalah). Selain itu, laboratorium tersebut memiliki fasilitas keamanan yang namanya BSL-4 facilities. Fasilitas BSL-4 adalah tingkat keamanan yang paling tinggi pada  bio-laboratorium, karena orang-orang di dalamnya bekerja pada sesuatu yang berbahaya dan berpotensi mengancam nyawa, seperti virus Ebola, demam Lassa, Marburg, dan penyakit lainnya yang belum pernah kita dengar tetapi mematikan. Sangat kecil kemungkinannya bagi orang-orang di dalam lab ini bermain melempar dan menangkap virus dan memasukkannya ke dalam saku celana mereka. Untuk ditetapkan sebagai fasilitas BSL-4, laboratorium harus memiliki sistem ventilasi yang sesuai, dinding yang diperkuat, sistem keamanan, dan konstruksi untuk menjaga hal-hal yang berbahaya untuk tetap di dalam.

Tidak hanya Wuhan, ada setidaknya enam fasilitas BSL-4 di Amerika Serikat. Menurut situs web Federasi Ilmuwan Amerika, tujuh lainnya mungkin direncanakan, sedang dibangun, atau mungkin selesai di berbagai kota lainnya di Amerika. Laboratorium-laboratorium di AS ini juga mempelajari dan menampung berbagai patogen berbahaya. Jadi sekali lagi memiliki lab yang mempelajari patogen buruk tidak berarti bahwa lab melepaskan apa pun.

Merasa dihina, politisi Cina menyerang balik teori konspirasi Amerika dengan pernyataan bahwa ada kemungkinan Covid-19 justru dibawa dari Amerika. Iran pun punya spekulasi yang sama, beranggapan kalau Amerika berencana untuk menjatuhkan Iran dan Cina. Entahlah, masing-masing negara cuma nda mau kalah.

Lalu? Ada bukti lain?

Mungkin yang lebih masuk akal dan berasal dari para ahli?

 

Ilustrasi memakai masker

Para ilmuwan –yang kita tahu adalah orang-orang yang benar-benar berusaha menemukan kebenaran dan memecahkan masalah daripada menyalahkan orang– telah melakukan analisis genetik untuk menentukan dari mana virus itu berasal dan bagaimana akhirnya menularkannya ke manusia. Meskipun virus tidak persis seperti manusia karena mereka tampaknya tidak memiliki perasaan atau menyebarkan desas-desus, virus memang memiliki materi genetik seperti manusia, ya walaupun materi genetik mereka tidak serumit manusia.

Semenjak Cina memberikan informasi tentang virus ini kepada WHO (World Health Organization) pada akhir Desember silam, sudah ada sekiat 2000-an lebih paper ilmiah yang meneliti Covid-19 ini. Salah satunya adalah paper ilmiah yang diterbitkan New England Journal of Medicine pada 26 februari 2020. Penelitian yang dilakukan oleh David M. Morens, M.D. dan Peter Daszak, Ph.D. dari National Institute of Health (NIH) dan Jeffery K. Taubenberger, M.D., Ph.D. tersebut menyatakan bahwa virus Covid-19 ini bukanlah virus yang diciptakan dan tiba-tiba lepas dari tempat penyimpanannya di toples atau (malah tuperware ibu kalian).

Urutan RNA dari virus ini sangat mirip dengan virus yang ditemukan di kelelawar. Kemungkinan besar virus ini berasal dari kelelawar dan menginfeksi spesies hewan tak dikenal yang dijual di pasar hewan liar di Wuhan dan kemudian bermutasi dan menginfeksi manusia. Kasus yang sama juga terjadi di masa wabah SARS 2002-2003 silam. Diketahui bahwa virus tersebut berasal dari kelelawar yang kemudian berpindah menjangkiti manusia melalui perantara hewan seperti musang.

Kemudian ada pula paper ilmiah yang diterbitkan jurnal Nature pada 17 maret 2020. Penelitian karya Kristian G. Andersen, Andrew Rambaut, W. Ian Lipkin, Edward C. Holmes, dan Robert F. Garry ini menyatakan, “Analisis kami dengan jelas menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 bukan konstruksi laboratorium atau virus yang dimanipulasi secara sengaja.”

Singkatnya, mereka menemukan kalau virus corona dapat mengikat protein pada sel manusia yang disebut ACE-2. Tapi, analisis komputasi memprediksi bahwa interaksi itu tidak ideal pada saat virus itu masuk ke badan manusia. Ini berarti pengikatan afinitas tinggi dari protein SARS-CoV-2 pada manusia kemungkinan besar merupakan hasil seleksi alam serta mutasi pada manusia yang memungkinkan pengikatan optimal lain muncul. Para ilmuwan mengatakan, ini adalah bukti kuat bahwa SARS-CoV-2 bukan produk dari manipulasi yang disengaja.

Penelitian ini juga memprediksi bahwa virus ini boleh jadi sudah menjangkiti manusia beberapa bulan sebelum akhirnya bermutasi dan mulai mewabah pada akhir Desember 2019.

Perlu diketahui pula, wet market yang berada di Wuhan ini dipenuhi dengan berabagai macam jenis hewan biasa maupun hewan liar yang masih hidup. Kandang-kandang hewan tersebut disusun bertumpukan, otomatis yang berada di bawah akan lebih kotor karena terkena cairan-cairan dari hewan lain yang berada diatasnya. Sangat besar kemungkinan beberapa hewan liar telah memiliki danmembawa penyakit, yang kemudian menjangkit hewan lain dan bercampur kemudian bermutasi sehingga dapat menjangkiti manusia.

Sudut Wuhan wet market

Dengan populasi yang sangat besar, diet makan yang kurang baik, pasar yang mengerikan, ditambah dengan cuaca yang humid, beberapa ahli virologi dan kesehatan sejak dulu meyakini jika ada pandemik selanjutnya, Cina dengan wet market-nya adalah tempat yang paling ideal bagi virus untuk berkembang.

Jadi begitulah, bukti ilmiah mengalahkan teori konspirasi. Akankah semua penemuan ilmiah ini akhirnya menghilangkan retorika “virus-dibuat-di-laboratorium-dan-itu-adalah-kesalahan Anda” antara politisi dan di media sosial? Mungkin tidak. Sejak kapan sains menghentikan retorika politik semacam itu? Namun, mungkin akan membuat lebih banyak orang yang akan fokus pada masalah yang jauh lebih penting: mencoba mengendalikan pandemi ini bersama-sama.