Home Opini Mau Dibilang Murah, Ya, Terserah!
Opini

Mau Dibilang Murah, Ya, Terserah!

Share
Share

Tarakan – Berjubel kabar burung tersebar kalau kopi murah adalah bahaya! Sebabnya, Ada yang bilang merusak harga pasar pun ada juga yang bilang asal jual kopian. Tidak hanya itu, ada juga yang bilang ikut ikutan. Toh, dari semua alasan, pada dasarnya hal yang penting adalah cuan, soal tidak menawarkan rasa atau filosofi bijak, itukan hanya ada di film.

Kenapa kopi murah dipermasalahkan? Bukankah harga merakyat sangat diperlukan di era sekarang ? Atau bisa jadi masyarakat sudah sadar, estetika tempat dan rasa bukan lagi hal yang paling relevan. Lagipula, semua hanya untuk foto di kaca dan pamer bill padahal ekonominya tidak stabil, asekkk.

Sekarang, sajian kopi dengan harga murah adalah pilihan yang paling instan. Sekarang barista tidak harus punya skil yang mapan, tanpa harus memikiran stelan dan tidak juga soal status sosial. Perkopian yang dibilang asal-asalan ini hadir secara komunal dan menyebar di setiap titik jalan. Pembelinya tidak butuh gaji yang melimpah mulai dari buruh, pelajar/mahasiswa, karyawan kantor/bank, pns, penyapu jalan, pengangguran, bahkan bandar jahanam. Semua bisa menikmati hanya dengan sepuluh ribuan.

Dah Tahu Ini ?  Politik, Fiksi dan suspensi ketidakpercayaan

Dari masifnya pasar perkopian ini, terlihat kebiasaan masyarakat sekarang yang nongkrong harus dengan kopi. Sekarang apa-apa kopi, misal, rehat sejenak butuh kopi, lemas sedikit butuh kopi, hingga traktir sepikan – dibaca PDKT – yang selalu ditawari kopi bukan lagi ale-ale atau es nutrisari. Semuanya jalan beriringan tanpa kita sadari.

Saya sendiri melihat bagaimana kota yang punya slogan smart city ini jauh dari kata dampak efisiensi mulai dari perputaran ekonomi, UMKM yang tumbuh walaupun di hajar brand brand besar, dan juga KUR di bank yang padat lancar. Lantas, apa yang harus kita pedulikan dengan omongan orang?

Ada pandangan bahwa sajian murah berarti mengesampingkan HPP (harga pokok penjualan), eitss jangan salah! justru itu sudah dipikirkan secara matang, buktinya ada yang bisa buka cabang. Lumrahnya, usaha yang punya cabang berarti bijak dalam mengelola keuangan, maka tidak perlu heran kenapa bisa murah tapi bertebaran. Kalaupun hanya satu dan tidak bisa buka cabang, kemungkinan itu hanya untuk ngisi waktu luang atau fokus ke angsuran…hahaha

Beberapa teman, bahkan, saya juga pada awalnya punya ketakutan soal kesehatan, seperti penyakit asam lambung, diabetes, dan radang tenggorokan. Namun realitanya tidak pernah kejadian, sebenarnya juga itu urusan belakang selagi BPJS kesehatan masih ada di tangan. Lagipula, tidak ada hubungannya kopi dengan kesehatan, buktinya saja yang sehabis easy run, mampirnya ke tempat ngopi begitupun sebaliknya sebelum lari juga ngopi. Bisa dibilang semacam simbiosis komensalisme.

Saya sangat senang adanya kopian murah di setiap trotoar jalan, tidak hanya itu, ada juga konsep mobil-mobilan. Tentu saja ini menjadikan banyak pilihan, Apalagi, dengan uang pas-pasan atau minta diQris-kan teman juga sudah bisa pesan. Yah, intinya saya bisa “mampir di manapun ngopi kapanpun” ketika lari atau bolos dari kerjaan. Pada dasarnya mungkin ini soal selera, tetapi, pesan saya untuk yang membaca “Selagi kopi murah ada dan berlipat ganda, hajar kawan! hehe..

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Jagat media sosial di Kota Tarakan belakangan ini dihebohkan oleh sebuah unggahan naratif dari Direktur Utama (Dirut) PDAM Kota Tarakan, Iwan Setiawan. Dalam postingannya, sang pejabat publik tampak mencoba bersembunyi di balik tameng istilah-istilah hukum pidana, menyikapi laporan resmi yang kami layangkan ke Polres Tarakan terkait dugaan pelanggaran Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).
Opini

Meluruskan Sesat Pikir Dirut PDAM Tarakan: Mengulas Mens Rea, Doxing, dan Keangkuhan Pejabat Publik

Penulis, Fadhil Qobus Ketua Umum HMI Cabang Tarakan Jagat media sosial di...

Tulisan ini bercerita bahwa hidangan Idul Fitri tidak semata tentang enak atau tidak, tetapi tentang bagaimana kita merespons peran perempuan di baliknya.
Opini

Idul Fitri yang Setara: Membaca Ulang Peran Perempuan di Rumah

Penulis: Anonim - Pegiat Literasi "Syawal menggemuruh, kita masih selalu berada di...

Opini

ATM, ruang publik untuk uji coba empati yang paling sederhana

Sore hari yang masih terik, deru roda menggilas aspal yang perlahan mulai...

Opini

Idul Fitri, Kaleng Bekas, dan Cerita yang Perlahan Kita Lupakan

Penulis: CIKI Idul Fitri selalu datang dengan cara yang sama gema takbir,...