Tarakan – Yang seharusnya menjaga malah terlibat dalam pusaran narkoba, yang harusnya memerangi malah melancarkan peredarannya. Narkoba, bias pundi dan kesenangannya memang menjanjikan.
Di tengah carut marutnya kepercayaan publik pada institusi kepolisian, setiap harinya ada saja tingkah laku ‘oknum’ di dalamnya. Terus terang, penggunaan kata oknum ini seperti tak habis-habis untuk institusi yang satu ini. Kebanyakan oknum.
Di negeri ini, yang ditugaskan menjaga dan mengawasi selalu memiliki celah untuk menghasilkan pundi-pundi, yang seharusnya bersih-bersih dan memerangi malah berkubang dalam lumpur yang sama. Seperti isu yang sedang trending di Kaltara baru-baru ini, Kasat Narkoba Polres Nunukan ditangkap dengan dugaan terlibat dalam penyelundupan narkoba. Tidak hanya Kasatnya saja, sekaligus tiga anggota ikut diseret dalam penangkapan tersebut.
Tidak hanya itu, sebelumnya, dikabarkan juga jika ada upaya dari dua oknum polisi untuk menukarkan barang bukti 12kg sabu-sabu namun keburu kedapatan akhirnya cuma tujuh gram saja yang hilang, seperti konfirmasi Polda Kaltara dilansir dari Tribun (20/06).
Anomali yang sepertinya sudah dianggap kejadian lumrah di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum juga jika sebenarnya pejabat atau aparat sering bermain dalam ranah ‘kriminal’ namun dibungkus dengan rapi, tapi begitu ketahuan semua seakan-akan sok kaget dengan kejadiannya.
Harusnya Polri dan Polda berbenah untuk menjadikan institusi kepolisian bersih dari hal-hal anomali ini. Mungkin, bisa dengan ancaman tegas, bukan ancaman yang melempem. Percayalah bapak-bapak yang ada di Polri dan Polda, jika hukumannya dengan cara-cara seperti wajib solat lima waktu, Polri tidak akan jadi apa-apa di mata publik. Lagian, solat lima waktu itu bukan hukuman lho pak, itu kewajiban bagi umat muslim.
Dalam banyaknya kasus yang dilakukan oknum Polri berseliweran beberapa bulan ini, harapan masyarakat sudah pasti ada penindakan tegas, bukan hanya kata-kata tapi juga perbuatan. Hal ini diharapkan mengembalikan martabat institusi sebagai penegak hukum di negeri ini. Alih-alih menindak tegas, malah sibuk mendandani citra Polri lewat konten di internet. Jangan, ya, pak.
kalau aparat terlibat dalam jaringan dan penyelundupan narkoba, lalu siapa yang bisa kita andalkan untuk memeranginya? Apa harus Damkar?
Leave a comment