Home Opini Citra Polri Dalam Anomali
Opini

Citra Polri Dalam Anomali

Share
Share

Tarakan – Yang seharusnya menjaga malah terlibat dalam pusaran narkoba, yang harusnya memerangi malah melancarkan peredarannya. Narkoba, bias pundi dan kesenangannya memang menjanjikan.

Di tengah carut marutnya kepercayaan publik pada institusi kepolisian, setiap harinya ada saja tingkah laku ‘oknum’ di dalamnya. Terus terang, penggunaan kata oknum ini seperti tak habis-habis untuk institusi yang satu ini. Kebanyakan oknum.

Di negeri ini, yang ditugaskan menjaga dan mengawasi selalu memiliki celah untuk menghasilkan pundi-pundi, yang seharusnya bersih-bersih dan memerangi malah berkubang dalam lumpur yang sama. Seperti isu yang sedang trending di Kaltara baru-baru ini, Kasat Narkoba Polres Nunukan ditangkap dengan dugaan terlibat dalam penyelundupan narkoba. Tidak hanya Kasatnya saja, sekaligus tiga anggota ikut diseret dalam penangkapan tersebut.

Tidak hanya itu, sebelumnya, dikabarkan juga jika ada upaya dari dua oknum polisi untuk menukarkan barang bukti 12kg sabu-sabu namun keburu kedapatan akhirnya cuma tujuh gram saja yang hilang, seperti konfirmasi Polda Kaltara dilansir dari Tribun (20/06).

Dah Tahu Ini ?  Membaca Literasi Jalanan Tarakan dalam Nafas Arundhati Roy – Catatan Perlawanan Sunyi dari Halaman Masjid dan Pantai Pesisir Binalatung

Anomali yang sepertinya sudah dianggap kejadian lumrah di negeri ini. Sudah menjadi rahasia umum juga jika sebenarnya pejabat atau aparat sering bermain dalam ranah ‘kriminal’ namun dibungkus dengan rapi, tapi begitu ketahuan semua seakan-akan sok kaget dengan kejadiannya.

Harusnya Polri dan Polda berbenah untuk menjadikan institusi kepolisian bersih dari hal-hal anomali ini. Mungkin, bisa dengan ancaman tegas, bukan ancaman yang melempem. Percayalah bapak-bapak yang ada di Polri dan Polda, jika hukumannya dengan cara-cara seperti wajib solat lima waktu, Polri tidak akan jadi apa-apa di mata publik. Lagian, solat lima waktu itu bukan hukuman lho pak, itu kewajiban bagi umat muslim.

Dalam banyaknya kasus yang dilakukan oknum Polri berseliweran beberapa bulan ini, harapan masyarakat sudah pasti ada penindakan tegas, bukan hanya kata-kata tapi juga perbuatan. Hal ini diharapkan mengembalikan martabat institusi sebagai penegak hukum di negeri ini. Alih-alih menindak tegas, malah sibuk mendandani citra Polri lewat konten di internet. Jangan, ya, pak.

Dah Tahu Ini ?  Presisi Telah Basi

kalau aparat terlibat dalam jaringan dan penyelundupan narkoba, lalu siapa yang bisa kita andalkan untuk memeranginya? Apa harus Damkar?

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
"Berproses dan merayakannya lagi", mungkin ini (menurut saya) adalah gambaran atau kalimat yang paling logis untuk adegan maupun gebrakan yang ada di Tarakan saat ini. Dari masa ke masa ntah kenapa dua hal itu selalu dilupakan dalam meneruskan ekosistem kolektif yang padahal membuat kita terus berada di permukaan yang suram hingga hari ini, seehhhh.
OpiniSeni Budaya

Menyambung Nafas Lewat Punk United Tarakan

Penulis: Luhur Budiman "Berproses dan merayakannya lagi", mungkin ini (menurut saya) adalah...

Jagat media sosial di Kota Tarakan belakangan ini dihebohkan oleh sebuah unggahan naratif dari Direktur Utama (Dirut) PDAM Kota Tarakan, Iwan Setiawan. Dalam postingannya, sang pejabat publik tampak mencoba bersembunyi di balik tameng istilah-istilah hukum pidana, menyikapi laporan resmi yang kami layangkan ke Polres Tarakan terkait dugaan pelanggaran Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).
Opini

Meluruskan Sesat Pikir Dirut PDAM Tarakan: Mengulas Mens Rea, Doxing, dan Keangkuhan Pejabat Publik

Penulis, Fadhil Qobus Ketua Umum HMI Cabang Tarakan Jagat media sosial di...

Tulisan ini bercerita bahwa hidangan Idul Fitri tidak semata tentang enak atau tidak, tetapi tentang bagaimana kita merespons peran perempuan di baliknya.
Opini

Idul Fitri yang Setara: Membaca Ulang Peran Perempuan di Rumah

Penulis: Anonim - Pegiat Literasi "Syawal menggemuruh, kita masih selalu berada di...

Opini

ATM, ruang publik untuk uji coba empati yang paling sederhana

Sore hari yang masih terik, deru roda menggilas aspal yang perlahan mulai...