“Another world is not only possible, she is on her way. On a quiet day, I can hear her breathing.”
- Arundhati Roy
Tarakan – Di ujung timur kota Tarakan, di tepi pantai Binalatung RT 11, sebuah dunia kecil sedang bernafas. Dunia itu bukan dibangun dengan anggaran besar atau program institusional. Ia lahir dari tangan-tangan warga yang peduli, dari semangat muda yang turun langsung ke kampung, dari keberanian untuk hadir dan bermain bersama anak-anak di halaman masjid yang sunyi dan pasir pantai yang hangat. Di sinilah Literasi Jalanan Tarakan hidup sebagai gerakan senyap, tapi tidak pernah diam.
Bersama anak-anak yang sebagian besar tidak pernah merasakan bangku sekolah formal dan putus sekolah kami bermain, membaca, menggambar dan berbicara tentang mimpi. Kami tidak membawa kurikulum, melainkan kehadiran dan kasih sayang. Kami tidak mengajar dari atas, melainkan duduk bersama, berdoa dan membuat lingkaran dari genggaman setiap anak-anak yang menjadi penguatan dan ruang aman sesama seperti kawan seperjalanan yang saling belajar tentang kehidupan.
Dunia dari Hal-hal Kecil
Arundhati Roy, dalam novel The God of Small Things, mengingatkan kita bahwa kehidupan sejati sering tersembunyi dalam hal-hal kecil yang diabaikan oleh kekuasaan besar seperti tawa anak-anak, bahasa ibu, permainan sederhana, bahkan keberanian menyebut nama sendiri saat belajar membaca. Sederhana tapi menjadikannya penuh cinta.
Di Binalatung, kami menyaksikan itu setiap hari. Anak-anak yang semula pemalu, kini mulai berani menyampaikan apa yang mereka inginkan. Anak-anak yang tak bisa membaca, kini mengeja huruf perlahan. Ini bukan sekadar capaian akademik, ini adalah pemulihan martabat, bahwa mereka juga berhak atas pengetahuan dan perhatian atas dunia sekitarnya.
Literasi Jalanan Tarakan hadir di ruang-ruang sederhana dengan tikar di bawah pohon kelapa, teras masjid, pasir pantai di mana tempat yang tak dianggap ‘kelas’, proses belajar inilah yang justru menjadi intim dan bermakna.
Perlawanan dalam Kesenyapan
Dalam banyak esainya, Arundhati Roy menulis tentang rakyat kecil yang berjuang di pinggiran – mereka yang dianggap tak penting oleh negara – justru menjadi aktor utama dalam membangun kehidupan. Roy tidak percaya pada slogan-slogan pembangunan yang mengabaikan manusia. Ia percaya pada gerakan akar rumput yang pelan-pelan mengubah dunia dari bawah.
Literasi Jalanan Tarakan pun begitu. Kami tidak datang membawa proyek besar. Kami datang membawa waktu, empati, dan keberanian untuk hadir. Di tengah negara yang kadang abai terhadap hak dasar pendidikan, kami memilih untuk tidak menunggu, namun bergerak. Bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai bagian dari rakyat itu sendiri.
Dalam arti ini, aktivitas literasi adalah bentuk perlawanan emansipatoris terhadap sistem pendidikan yang eksklusif, terhadap narasi pembangunan yang meminggirkan pesisir, terhadap ketidakpedulian yang dibungkus retorika kemajuan.
Membangun Dunia Baru dari Pinggiran
Kutipan Roy yang paling sering dikutip tentang dunia baru yang sedang dalam perjalanan tidak hanya puisi. Ia adalah keyakinan radikal bahwa dunia yang lebih adil tidak lahir dari pusat kekuasaan, namun dari pinggiran, dari tangan-tangan kecil yang merawat dan mencipta.
Di RT 11, dunia itu sedang bertunas. Anak-anak mulai bermimpi. Warga mulai percaya bahwa mereka bisa terlibat langsung dalam pendidikan. Para relawan mulai melihat bahwa perubahan bukan sesuatu yang abstrak, tapi sangat konkret - terjadi di depan mata, dalam tawa anak-anak dan kehangatan warga – Dan di situlah harapan itu bersemayam.
Melihat Seperti Rakyat, Bukan Seperti Negara
Arundhati Roy menolak cara pandang negara yang teknokratik. Ia memilih melihat seperti rakyat - melihat dengan empati, dengan keberpihakan, dengan keberanian menyelami kehidupan nyata yang tidak selalu rapi. Demikian pula Literasi Jalanan Tarakan, kami memilih hadir, bukan hanya menilai. Kami memilih mendengarkan, bukan hanya menyuruh. Kami memilih belajar, bukan hanya mengajar.
Di halaman masjid dan pantai Binalatung, kami percaya: pendidikan tidak hanya soal huruf, tapi soal keberanian untuk bermimpi dan membangun dunia yang lebih baik. Bukan besok. Tapi sekarang. Dari sini. Dari pinggiran hingga pesisir.
kami percaya bahwa dunia yang adil dan manusiawi tidak hanya utopia. Ia nyata, lahir dari kerja kolektif rakyat. Kolekftif Remaja Pesisir Santuy nan Sholeha.
Leave a comment