Home Kalimantan Utara Tanpa Sinyal dan Listrik, Warga Long Bulu Lumbis Ogong Bertahan dalam Keterbatasan
Kalimantan UtaraUmum

Tanpa Sinyal dan Listrik, Warga Long Bulu Lumbis Ogong Bertahan dalam Keterbatasan

Share
Di Desa Long Bulu, Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan, kehidupan berjalan dalam sunyi tanpa sinyal telekomunikasi dan tanpa listrik yang stabil. Desa ini berada di kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia, wilayah yang secara geografis terpencil dan hanya dapat dijangkau melalui jalur sungai.
Share

NUNUKAN — Di Desa Long Bulu, Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan, kehidupan berjalan dalam sunyi tanpa sinyal telekomunikasi dan tanpa listrik yang stabil. Desa ini berada di kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia, wilayah yang secara geografis terpencil dan hanya dapat dijangkau melalui jalur sungai.

Ketika matahari terbenam, aktivitas warga perlahan terhenti. Gelap menjadi bagian dari keseharian. Masyarakat sangat bergantung pada cahaya alami di siang hari. Saat malam tiba, sebagian warga menggunakan lilin atau lampu minyak. Ada pula yang memakai genset, namun hanya bagi keluarga yang mampu membeli bahan bakar.

“Kalau malam, aktivitas memang sangat terbatas. Kami mengandalkan lilin atau lampu minyak,” ujar Pemuda Desa Long Bulu, Mastaryo, Selasa (23/02/2026).

Ketiadaan listrik berdampak langsung pada dunia pendidikan. Proses belajar mengajar di sekolah berlangsung dengan fasilitas seadanya. Sekolah kesulitan menyediakan penerangan memadai, komputer, maupun media pembelajaran elektronik. Anak-anak pun tidak dapat belajar optimal pada malam hari.

Keterbatasan akses internet membuat murid-murid di Long Bulu tertinggal dalam memperoleh informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Di wilayah perbatasan seperti ini, kesenjangan digital terasa semakin nyata. 

Dah Tahu Ini ?  Memaknai Idul Adha, Ketua AMPG Kaltara: Momentum Perkuat Kepedulian Sosial dan Solidaritas Pemuda

“Kami tidak punya akses perpustakaan digital atau internet. Anak-anak sulit mengikuti perkembangan di luar,” sebutnya.

Keterbatasan juga dirasakan dalam tata kelola pemerintahan desa. Administrasi masih dilakukan secara manual. Pendataan warga, pencatatan aset desa, hingga laporan keuangan dikerjakan tanpa dukungan sistem digital. Proses ini memakan waktu dan rentan kesalahan.

Koordinasi dengan pemerintah kecamatan hingga kabupaten pun menjadi tantangan tersendiri. Untuk mengirim laporan atau menerima informasi penting, perangkat desa harus menunggu warga yang bepergian ke luar desa.

“Biasanya ada warga yang bolak-balik ke Mansalong atau desa lain yang ada sinyal. Kami titip pesan atau surat kalau ada urusan mendesak,” ungkapnya.

Di sektor kesehatan, keterbatasan listrik membuat fasilitas layanan dasar tidak dapat mengoperasikan peralatan medis yang membutuhkan daya listrik stabil. Posyandu maupun fasilitas kesehatan tidak dapat menggunakan alat tertentu yang memerlukan pasokan listrik tetap.

Padahal, Long Bulu sempat merasakan akses sinyal melalui jaringan Telkomsel Bakti sejak 2021. Namun, pada akhir 2024 jaringan tersebut tidak lagi aktif hingga sekarang. Sejak saat itu, desa kembali sepenuhnya tanpa akses komunikasi seluler.

Dah Tahu Ini ?  Apa Yang Bisa Menjadi Cara Tercepat Untuk Mengakhiri Krisis Covid-19?

“Kami berharap sinyal Telkomsel Bakti bisa diaktifkan kembali. Waktu itu sangat membantu masyarakat,” harapnya.

Selain sinyal dan listrik, warga juga berharap pembangunan akses jalan darat segera direalisasikan. Selama ini mobilitas masyarakat sepenuhnya mengandalkan jalur sungai, yang bergantung pada kondisi cuaca dan debit air.

Sebagai wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) di perbatasan negara, masyarakat Long Bulu berharap perhatian pemerintah terhadap penyediaan akses dasar semakin diperkuat.

“Harapan utama kami listrik dan sinyal bisa segera masuk dan stabil. Itu akan membawa dampak besar untuk pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.

Bagi warga Long Bulu, kehadiran listrik dan sinyal bukan sekadar soal teknologi. Di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia ini, keduanya menjadi simbol kehadiran negara dan jembatan menuju kesempatan yang lebih setara dengan daerah lain di Tanah Air.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Pusaran kasus dugaan investasi bodong bermodus titip dana dan pinjaman berbunga melalui media sosial kian meluas di Kota Tarakan. Berdasarkan data terbaru dari tim penasihat hukum korban, total kerugian yang dialami masyarakat kini ditaksir mencapai lebih dari Rp1,2 miliar dengan puluhan korban yang terjebak dalam skema tersebut.
HukrimUmum

Kasus Investasi Bodong di Tarakan Menggurita: Korban Capai Puluhan Orang, Total Kerugian Terdeteksi Tembus Rp1,2 Miliar

TARAKAN — Pusaran kasus dugaan investasi bodong bermodus titip dana dan pinjaman...

Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Tarakan menyatakan sikap tegas menolak segala bentuk normalisasi keterlibatan institusi kepolisian dan aparat keamanan di dalam ruang akademik. Ruang kuliah dan mimbar akademik dinilai harus tetap steril dari intervensi kekuasaan demi menjaga perannya sebagai benteng terakhir kritik sosial dan demokrasi.
Umum

LMND Tarakan Tolak Normalisasi Kehadiran Polisi di Dalam Kampus

TARAKAN — Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Tarakan menyatakan sikap...

Subkultur pop Jepang kini tidak lagi sekadar menjadi tontonan layar kaca di wilayah perbatasan utara Indonesia. Di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, sekelompok anak muda yang tergabung dalam komunitas Creahigh mulai berani mengekspresikan diri dengan mereplikasi karakter-karakter anime favorit mereka ke ruang publik. Namun, dibalik riasan wajah yang tebal dan pakaian yang penuh warna, mereka tetap harus berhadapan dengan tembok tebal berupa stigma negatif dan minimnya ruang ekspresi yang aman.
Kalimantan Utara

Senator Herman Kemper Serap Aspirasi Komunitas Anime Lover Tarakan

TARAKAN — Subkultur pop Jepang kini tidak lagi sekadar menjadi tontonan layar...