Home Opini Menyambung Nafas Lewat Punk United Tarakan
OpiniSeni Budaya

Menyambung Nafas Lewat Punk United Tarakan

Share
"Berproses dan merayakannya lagi", mungkin ini (menurut saya) adalah gambaran atau kalimat yang paling logis untuk adegan maupun gebrakan yang ada di Tarakan saat ini. Dari masa ke masa ntah kenapa dua hal itu selalu dilupakan dalam meneruskan ekosistem kolektif yang padahal membuat kita terus berada di permukaan yang suram hingga hari ini, seehhhh.
Share

Penulis: Luhur Budiman

“Berproses dan merayakannya lagi”, mungkin ini (menurut saya) adalah gambaran atau kalimat yang paling logis untuk adegan maupun gebrakan yang ada di Tarakan saat ini. Dari masa ke masa ntah kenapa dua hal itu selalu dilupakan dalam meneruskan ekosistem kolektif yang padahal membuat kita terus berada di permukaan yang suram hingga hari ini, seehhhh.

Komunitas/subkultur yang melalui proses akan selalu terhubung ke hal-hal yang semakin mewaraskan, merangkul, dan meneruskan apa yang kita yakini dalam bentuk linier.

Semakin kesini perubahan kebiasaan atau pikiran semakin cepat, belum lagi kalau kita ketemu abang abangan, orang tua lama, yang merasa paling mengalami semuanya. bikin buyar, aih payaaah lagiii (logat Selumit) hehe.

Saya pribadi tidak paham dengan konsep pengen beda sendiri, walaupun ini sudah umum di dengarkan tapi kan yang penting itu bikin aja dulu. Masalah mainstream/anti-mainstream itu soal perspektif aja. Huhh dasar hipster!!! Terjebak dalam konsep seperti ini juga terkadang membuat adegan Tarakan jadi mati.

Dah Tahu Ini ?  Membaca Literasi Jalanan Tarakan dalam Nafas Arundhati Roy – Catatan Perlawanan Sunyi dari Halaman Masjid dan Pantai Pesisir Binalatung

Dan sekarang kebetulan, giatnya Punk United Tarakan yang selalu merayakan proses mereka dan berbagi kebahagiaan untuk orang-orang melalui hajatan seni. Ini juga semakin membenarkan pernyataan bahwa sebenarnya punk bukan soal pengaturan auran, mabuk sembarang ataupun tukang curi gorengan, haha. Tapi ada ideologi yang sah sah aja untuk dijalankan dalam bentuk perayaan. Perayaan yang semoga mentrigger jenis kolektif lainnya untuk membuat sesuatu yang bisa menghidupkan kota yang “smart segan maju tak mau” ini.

Sebagai penutup saya ingin menyampaikan kalau pada dasarnya Punk bukan hanya sebatas bunyi des tak des des tak, tapi soal gerakan dan gagasan untuk penerus kelak.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Jagat media sosial di Kota Tarakan belakangan ini dihebohkan oleh sebuah unggahan naratif dari Direktur Utama (Dirut) PDAM Kota Tarakan, Iwan Setiawan. Dalam postingannya, sang pejabat publik tampak mencoba bersembunyi di balik tameng istilah-istilah hukum pidana, menyikapi laporan resmi yang kami layangkan ke Polres Tarakan terkait dugaan pelanggaran Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).
Opini

Meluruskan Sesat Pikir Dirut PDAM Tarakan: Mengulas Mens Rea, Doxing, dan Keangkuhan Pejabat Publik

Penulis, Fadhil Qobus Ketua Umum HMI Cabang Tarakan Jagat media sosial di...

Tulisan ini bercerita bahwa hidangan Idul Fitri tidak semata tentang enak atau tidak, tetapi tentang bagaimana kita merespons peran perempuan di baliknya.
Opini

Idul Fitri yang Setara: Membaca Ulang Peran Perempuan di Rumah

Penulis: Anonim - Pegiat Literasi "Syawal menggemuruh, kita masih selalu berada di...

Opini

ATM, ruang publik untuk uji coba empati yang paling sederhana

Sore hari yang masih terik, deru roda menggilas aspal yang perlahan mulai...

Opini

Idul Fitri, Kaleng Bekas, dan Cerita yang Perlahan Kita Lupakan

Penulis: CIKI Idul Fitri selalu datang dengan cara yang sama gema takbir,...