Home Umum kata-kata bukan komoditas, marah atau sawit bolehlah
Umum

kata-kata bukan komoditas, marah atau sawit bolehlah

Share
Share

Ngomongin soal komoditas, secara harafiah pengertiannya adalah semua barang dapat diperdagangkan atau diperjualbelikan. Salah satunya adalah sawit yang terkenal jahat karena merusak lingkungan. Karena dari awal pembukaan lahan perkebunan saja harus bakar-bakaran hutan. Memang, ada cara lain selain membakar hutan, namun apakah digunakan? Tetap saja dibakar.

Aktivis lingkungan bahkan mati-matian untuk menghentikan kegiatan perkebunan sawit. Namun sayangnya, sawit sampai sekarang pun menjadi komoditas andalan bangsa ini. Ngomongin soal komoditas, apakah kata-kata bisa jadi komoditas?

Tentu bisa, kata-kata bisa diperdagangkan. Seperti Kapitulis, perusahaan yang digawangi oleh Zarry Hendrik, seorang selebtwit yang pernah jadi Komika yang kurang lucu ini, sekarang berkarir sebagai perangkai kata. Zarry, memang terkenal dengan kata-kata romantis di timeline akun Twitter-nya. Saya akui, memang dia berbakat dalam menulis serta menggombal melalui kata-kata.

Singkat cerita, seperti dikutip dari Media Indonesia, Bisnis rangkai kata itu bisa dianggap mirip agensi periklanan. Namun, yang membedakan jasa rangkai kata miliknya menerima pesanan ‘personal usage‘. Menurutnya, salah satu yang mendorong bisnisnya laku ialah kesadaran orang tentang branding.

Namun, sejak awal kemunculan, banyak pro-kontra yang menyertainya. Ada yang berpendapat jika buat caption saja harus bayar. Dasar Zarry hendrik Matre!! Yeee.. biarin.

Dah Tahu Ini ?  Operasional Ojol di Pelabuhan Kaltara Masih Dikaji

Selain itu, baru aja kejadian, Bernard Batubara, seorang penulis yang mengaku sudah menulis 17 buku menyinggung Kapitulis dengan mencuitkan “Kata-kata bukanlah Komoditas” Walaupun tidak secara gamblang menyinggung akun Kapitulis. Namun sayangnya, istri dari penulis ini menimpali jika yang menggunakan jasa merangkai kata adalah orang yang malas untuk berpikir. Padahal tadinya no mention, akhirnya malah nyenggol.

Pendapat ini tentu saja jadi tertawaan netizen, apalagi netizen yang bekarir sebagai sebagai copywriter. Tugasnya copywriter-kan menulis konten kreatif dan merangkai kata untuk branding, apa bedanya dengan Kapitulis?

Lalu, pertanyaan lainnya, 17 buku yang sudah diterbitkan dan dijual oleh Bernard Batubara itu apa isinya voice note semua, ya?

Menurut saya, semuanya bisa jadi komoditas, jangankan kata-kata, hembusan nafas juga bisa jadi komoditas, kok. Asal ada yang mau beli. Sederhananya kan gitu, ya. Jika disuruh memilih antara sawit dan kata-kata, saya tetap memilih kata-kata untuk dijadikan komoditas. Tidak merusak.

Untungnya, marah-marah belum dijadikan komoditas, jika marah-marah bisa jadi komoditas Bernard Batubara bisa memulai bisnis seperti Zarry, seperti yang ia pernah lakukan pada diskusi buku waktu lalu. Mungkin ke depannya ada pembangkit listrik tenaga marah-marah. Tentu saja mas Bernard punya potensi untuk bisnis tersebut. HEHEHEHE…

Dah Tahu Ini ?  Kecewa di hari yang sama dengan Indonesia
Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
MusikUmum

Eksplorasi Solidaritas dan Keresahan Sosial dalam EP Perdana DEMOS69, “From Friends For Friends”

TARAKAN - ​Bagi sebagian orang, musik hardcore mungkin hanya terdengar seperti deru...

Pusaran kasus dugaan investasi bodong bermodus titip dana dan pinjaman berbunga melalui media sosial kian meluas di Kota Tarakan. Berdasarkan data terbaru dari tim penasihat hukum korban, total kerugian yang dialami masyarakat kini ditaksir mencapai lebih dari Rp1,2 miliar dengan puluhan korban yang terjebak dalam skema tersebut.
HukrimUmum

Kasus Investasi Bodong di Tarakan Menggurita: Korban Capai Puluhan Orang, Total Kerugian Terdeteksi Tembus Rp1,2 Miliar

TARAKAN — Pusaran kasus dugaan investasi bodong bermodus titip dana dan pinjaman...

Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Tarakan menyatakan sikap tegas menolak segala bentuk normalisasi keterlibatan institusi kepolisian dan aparat keamanan di dalam ruang akademik. Ruang kuliah dan mimbar akademik dinilai harus tetap steril dari intervensi kekuasaan demi menjaga perannya sebagai benteng terakhir kritik sosial dan demokrasi.
Umum

LMND Tarakan Tolak Normalisasi Kehadiran Polisi di Dalam Kampus

TARAKAN — Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Tarakan menyatakan sikap...