Baru hari ini merasa sedikit nyaman untuk menulis kembali. Beberapa hari yang lalu, kekecewaan sebagai masyarakat yang tinggal di Indonesia begitu memuncak. Bahkan, menuliskan tulisan ini harus mengumpulkan niat yang begitu lama, rasanya seperti diputuskan secara sepihak dari hubungan yang kau damba-dambakan akan bahagia. Ternyata hanya kecewa.
Kecewa pada hubungan percintaan yang sudah beberapa kali kulewati setidaknya memberikan kekuatan baru untuk menjalani hari yang lain, berbeda dengan kecewa pada pemerintahan, jika kecewa pada percintaan, yang tersakiti hanya dirimu sendiri, tidak dengan pemerintah karena ini berhubungan dengan kemaslahatan orang banyak termasuk kamu dan keluargamu.
Dimulai dari RUU TNI yang disahkan oleh DPR RI (20/03/25) hal ini sangat mengejutkan di tengah kecaman masyarakat yang notabene menolak Revisi UU TNI tersebut. Ajaibnya, Dewan Perwakilan Rakyat menutup nurani mereka pada gelombang aksi yang ada di luar gedung tempat para elite politik bertepuk tangan karena mensahkan UU TNI tanpa interupsi sedikitpun. Ini seperti kemufakatan jahat yang dinormalisasi. Tentu yang jadi korban adalah rakyat, bukan para elite politik yang menaiki mobil Range Rover dan Lexus dengan pengawalan tersebut.
Lebih anehnya, Menteri Pertahanan Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin malah mengucapkan terima kasih kepada masyarakat karena dukungannya pada revisi UU TNI saat diberi kesempatan berbicara pada rapat paripurna tersebut. Pertanyaannya, masyarakat yang mana? Sedangkan gelombang protes masyarakat diluaran semakin meluas sampai hari ini.
Aslik. Aneh.
Jangan tanya apa pendapat Presiden Republik Indonesia, seperti yang dilansir Kompas.id (21/03/25) Presiden Prabowo tak merespons pertanyaan awak media soal polemik RUU TNI yang masih menuai kritik dari masyarakat. Alih-alih menjawab, Presiden justru melambaikan tangan sambil tersenyum. Malahan, Presiden Prabowo lebih memilih mengomentari Timnas Indonesia dikutip dari sumber yang sama “Timnas, kita berdoa berhasil,” kata Prabowo (21/03/25)
Hasilnya, Timnas dipecundangi Australia 5-1 dan memperkecil kesempatan untuk berlaga di Piala Dunia. Ini kekecewaan kedua di hari yang sama sebagai warga negara Indonesia. Tidak perlu diceritakan panjang lebar, Federasi yang menaungi Timnas juga tidak kalah problematik dengan Pemerintahan. Klop.
Leave a comment