Penulis: Luhur Budiman, Pengguna Jalan Diponegoro
Sebelumnya saya tidak tahu, apakah sudah ada yang penulis atau membuat konten tentang ini, atau juga ada yang sepemikiran. Yang pasti, ini adalah murni keluhan saya sebagai pengendara atau pengguna jalan.
Fenomena jalan raya memang sangat beragam, mulai dari pengendara ugal ugalan, sein kiri tapi belok kanan, knalpot rongsokan, hingga banyak tikus mati ketika menyeberang. Tapi, jalan Diponegoro punya caranya sendiri, dari nama jalan kita bisa melihat karakter seseorang. Yak, saya tidak bercerita ngarang. Mari kita mulai dengan pikiran yang tenang agar semua cerita bisa tergambarkan.
Saya mengalami ini sudah dari jauh jauh hari, sempat merantau lama lalu kembali ternyata kebiasaan itu semakin menjadi jadi. Dari banjir yang hampir setiap hari hingga rehabilitasi jalan dan perbaikan drainase. Kebiasaan yang saya maksud adalah, PARKIR TENGAH JALAN, coba bayangkan ada pengendara mobil hanya karena ingin beli rokok yang kembaliannya seribu rupiah tapi dikasi bombon itu tiba tiba berhenti persis di tengah jalan tanpa mikir orang di belakang yang kena macet panjang. Anehnya lagi tidak ada satupun orang yang berani tegur seolah olah itu “oh budaya kami memang nih”. Setelah bebas dari macet, MAMPUSLAH KAU di kagetkan ibu ibu yang tiba tiba keluar dari gang mawar tanpa melihat kiri kanan. Ketika menyebrang pun kaki dan ban kendaraan hampir “berciuman” sangking tidak ada kesempatan. Dari kejadian ini, seingat saya, tidak pernah ada yang menyebut istigfar atau demi tuhan. Ntah kenapa, kimbe, jahanam, dan berbagai umpatan adalah pilihan yang langsung ada dipikiran.
Saya sering teringat penggalan lirik dari silampukau “orkes jahanam, mesin dan umpatan”, karena cocok menggambarkan kejadian. Ntah kenapa, semakin lebar jalan semakin kecil juga ruang gerak untuk berjalan. Warung makan, pedagang kaki lima, gerobak kopian, hingga pengelem saling bersahutan.
Jalan Diponegoro adalah dunia lain yang wajib untuk kita telusuri. Oh ya, satu lagi. Saya sendiri adalah salah satu pelaku di jalan yang “sembarangan” itu hehe..
Leave a comment