Penulis: Rizky Fauzy, Literasi Jalanan
Ketika Perbatasan Melewati Manusia
“James C. Scott pernah menulis bahwa negara bekerja dengan cara menyederhanakan kehidupan manusia yang kompleks menjadikannya peta, angka, syarat, dan kategori yang mudah diatur. Dalam proses itu, banyak kehidupan jatuh di luar keterbacaan negara: terlalu rumit, terlalu bergerak, terlalu lintas batas. Loudres adalah salah satu ruang semacam itu sebuah kampung yang hidup justru karena tidak pernah sepenuhnya bisa “dilihat” oleh negara”.
Malam Natal di Loudres selalu terasa berbeda.
Pada akhir Desember, kampung kecil di ujung utara Sebatik ini mendadak hidup. Jalan tanah yang biasanya lengang dipenuhi langkah-langkah pulang. Anak-anak datang dari seberang. Para ayah muncul sebentar dari Tawau dan Bergosong, Sabah, dengan ransel kecil dan wajah lelah yang disembunyikan senyum.Bukan karena jarak menjadi dekat, melainkan karena Natal memberi alasan untuk kembali.
Loudres adalah kampung perbatasan. Namun bagi warganya, perbatasan bukan garis di peta. Ia adalah lintasan hidup yang dilalui setiap hari kadang dengan izin, sering tanpa perlindungan.
Nama Loudres diambil dari Lourdes, kota ziarah Katolik di selatan Prancis
tempat cahaya dan harapan Bunda Maria dipercaya hadir. Namun jauh sebelum nama itu diberikan, tempat ini telah ada sebagai Dusun Sungai Limau: hutan lebat, sunyi, dan penuh kayu besar. Sunyi yang kemudian dipecahkan oleh suara gergaji dan mesin berat.
Pada awal 1990-an hingga 1997 hutan ini menjadi sasaran pembalakan liar. Kayu-kayu raksasa diangkut pergi, sebagian menyeberang batas negara. Alam terkikis, sementara manusia hanya menjadi penonton.
Tidak semua diam.Anton Widodo, Petrus Roga, dan beberapa warga lain memilih melawan. Mereka menghadang ekskavator, memblokade alat berat, dan melaporkan penebangan ke pemerintah perlawanan kecil dari orang-orang yang menolak pergi dan memilih bertahan untuk hidup.
Perjalanan itu membawa mereka ke Tanjung Selor, bertemu Bupati Bulungan saat itu, La Bessing. Dari pertemuan tersebut lahir sebuah kesepakatan sederhana namun berani: tanah ini dibuka bukan untuk kayu, melainkan untuk manusia.
Pembagian lahan, syarat tinggal minimal dua tahun, dan penataan pasca-pembalakan adalah cara negara “melihat” Loudres - sebagaimana dikatakan James C. Scott, upaya menjadikan kehidupan yang cair agar terbaca dan terukur. Namun kehidupan di Loudres tidak tumbuh dari rancangan ini. Ia tumbuh dari praktik sehari-hari yang tak pernah sepenuhnya masuk ke dalam logika administrasi: kerja lintas negara, pengasuhan kolektif, iman, dan ingatan akan terusir.
Setiap keluarga yang mau menetap diberi izin menggarap 1–3 hektare dari total 50 hektare lahan. Syarat tinggal dua tahun terdengar mudah. Nyatanya berat. Loudres masih berupa hutan, jauh dari fasilitas dan penghidupan cepat. Tidak semua sanggup bertahan. Sebagian kembali ke Sabah, sebagian memilih pergi lagi. Namun mereka yang bertahan merekalah yang menyalakan kampung ini.
Mayoritas penduduk Loudres adalah mantan buruh migran Indonesia di Malaysia: dari Flores, Sulawesi, dan wilayah timur lainnya. Tawau, Sandakan, Kota Kinabalu bukan nama asing; di sanalah mereka pernah bekerja, hidup, dan berharap. Migrasi mereka bukan petualangan. Ia lahir dari ketimpangan. Jauh sebelum negara menggambar garis, hubungan lintas batas telah terjalin lewat kerja, kekerabatan, dan budaya. Menyeberang adalah hal biasa. Perbatasan datang belakangan.
Namun tahun 2002 mengubah segalanya.
Tragedi deportasi besar-besaran di Nunukan menjadi luka yang tak kunjung sembuh. Ribuan orang dipulangkan secara kasar. Mereka tidur di jalan, kehabisan makanan, kehilangan keluarga. Sebagian kehilangan nyawa.Tidak semua pulang ke kampung asal.
Banyak berhenti di perbatasan. Loudres menjadi kampung singgah bagi mereka yang terusir kampung yang lahir dari pengusiran, tetapi bertahan lewat solidaritas.
Hari ini, sebagian besar penduduk Loudres masih bekerja di Malaysia. Nama mereka tercatat di Kartu Keluarga Indonesia, tetapi tubuh mereka berada di Sabah. Anak-anak tumbuh di antara dua dunia dua negara, dua identitas dan sering kali tanpa perlindungan penuh dari keduanya.
Sebagian anak dititipkan pada nenek.
Sebagian bolak-balik lintas negara setiap akhir pekan.
Ada yang berjalan jauh ke sekolah.
Ada yang tak datang saat hujan karena jalan becek dan rusak.
Sekolah dan gereja menjadi tempat berlindung. Guru-guru “melompatkan” kelas bagi anak yang terlambat masuk sekolah. Akta kelahiran sering disusun belakangan. Negara hadir setengah-setengah, tetapi warga saling menopang sepenuh-penuhnya.
Ada Tina.
Seorang anak perempuan yang pada usia seharusnya bermain dan belajar, justru bekerja bersama orang tuanya. Tiga tahun ia meninggalkan sekolah,sementara teman sebayanya mengenal dunia lewat buku dan papan tulis. Kini Tina duduk di rumah yang jauh dari kata aman. Orang tuanya bekerja di kebun sawit dengan upah murah, terjebak sebagai migran tidak berdokumen seperti ribuan lainnya.
Wajah Tina terlalu cepat dewasa. Dan ia bukan satu-satunya.Banyak anak migran hidup sebagai pelarian kecil: tak ingin berpisah dari orang tua, tetapi kehilangan hak dasar sebagai anak.
Di Loudres, bahkan air bersih adalah kemewahan. Warga mengandalkan air hujan. Namun di tengah keterbatasan itu, lahirlah Om Joko-organisasi lintas iman yang menjaga harmoni Muslim, Katolik, dan Protestan.
Di Loudres, toleransi bukan slogan.
Ia adalah kebutuhan hidup.
Maka Natal di Loudres bukan sekadar perayaan iman. Ia adalah ritus pulang. Peringatan atas mereka yang pernah diusir. Pengakuan bahwa kampung ini ada bukan karena belas kasih negara, melainkan karena keteguhan para migran.
Loudres mengajarkan satu hal penting:
bukan manusia yang melewati perbatasan,
melainkan perbatasan yang melewati manusia.
Perbatasan tidak bekerja sebagai garis pemisah yang tegas, melainkan sebagai mekanisme yang memilih: siapa yang boleh bekerja tetapi tidak dilindungi, siapa yang boleh hadir tetapi tidak diakui sepenuhnya. Warga Loudres hidup dalam keterlibatan yang setengah-setengah cukup dekat untuk dieksploitasi, cukup jauh untuk dilupakan.
Dari sudut pandang negara, Loudres adalah ruang yang sulit dibaca. Warganya bergerak, identitasnya ganda, hidupnya melampaui formulir. Namun justru di ruang yang tak terbaca inilah kehidupan bertahan. Sekolah menyesuaikan, gereja dan masjid menopang, warga saling menggantikan peran negara yang absen atau datang terlambat.
Dan selama ingatan itu dijaga,
selama Natal dirayakan sebagai solidaritas,
Loudres akan tetap menyala
sebagai cahaya kecil yang menolak padam
di tengah ketimpangan besar.
Tulisan ini adalah bagian dari memori kolektif masyarakat Dusun Loudres, Sebatik. Ia merekam jelaga manusia yang berkumpul di malam kelahiran malam ketika pulang tidak selalu berarti kembali ke rumah, tetapi diingat bersama.
Leave a comment